JAKARTA – Dunia internasional sedang menahan napas. Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan Panglima Garda Revolusi akibat serangan militer, bukan sekadar berita duka, melainkan lonceng pembuka bagi eskalasi perang terbuka di Timur Tengah. Di tengah abu yang masih mengepul, muncul pertanyaan krusial: Di mana posisi Indonesia?
Pengamat politik sekaligus “Presiden Akal Sehat”, Rocky Gerung, memberikan analisis yang menohok. Menurutnya, inisiatif Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi juru damai antara Iran dan Amerika Serikat kini menghadapi tembok raksasa yang disebut “politik realisme”.
Diplomasi di Ujung Tanduk
Dalam perspektif Geopolitik Global, tewasnya simbol spiritual dan militer Iran telah mengubah dialektika konflik dari diplomasi meja makan menjadi logika Si Vis Pacem, Para Bellum—jika ingin damai, bersiaplah untuk perang. Rocky menilai langkah Indonesia saat ini berada dalam posisi “terlambat” karena momentum pencegahan eskalasi telah terlampaui oleh fakta-fakta militer di lapangan.
“Keadaan dunia memang masuk dalam potensi perang di antara kekuatan besar. China dan Rusia sudah bersiap masuk karena hitungan krisis energi global jika Selat Hormuz ditutup,” ujar Rocky dalam kanal resminya.
Lebih jauh, Rocky menyoroti hambatan kultural Indonesia yang sering dituduh sebagai “agen Amerika” di mata beberapa faksi Timur Tengah. Tuduhan ini menjadi kerikil tajam yang menghalangi otentisitas Indonesia sebagai mediator yang netral dalam konflik yang melibatkan proksi Israel-Amerika di satu sisi, dan poros perlawanan Iran di sisi lain.
Antara Domestik dan Global
Rocky menyarankan agar Presiden Prabowo melakukan kalkulasi ulang. Dalam teori Administrasi Publik dan Hubungan Internasional, menghamburkan sumber daya untuk diplomasi yang “kehilangan poin” bisa menjadi bumerang bagi stabilitas dalam negeri. Apalagi, dampak ekonomi berupa lonjakan harga BBM akibat ketegangan di Selat Hormuz sudah mulai terasa di kantong rakyat Indonesia.
“Mungkin lebih baik Pak Prabowo ambil jarak dari politik realisme Timur Tengah dan mulai membangun kembali blok ideologi baru, seperti semangat Asia-Afrika yang dulu digelorakan Bung Karno,” tambah Rocky.
Membangun kembali Global South melalui kepemimpinan Indonesia di Asia-Afrika dianggap lebih strategis daripada terjebak dalam pusaran konflik Iran-Israel yang sudah masuk ke tahap absolut. Kini, publik menanti: Apakah Prabowo akan tetap maju sebagai juru damai yang “terlambat”, atau justru bermanuver menghidupkan kembali poros Bandung demi kemandirian bangsa?.**
Sumber: Kanal Youtube Rocky Gerung Official








