Hormuz Masih Tegang, Sepulu Malah “Perang”: Paradoks Ramadan di Jalur Utara Bangkalan

Terbit: 10 Maret 2026 | 16:28 WIB

BANGKALAN – Di saat mata dunia tertuju pada ketegangan Selat Hormuz yang tak kunjung reda, “dentuman” lain justru pecah di pesisir utara Madura. Bukan karena manuver kapal perang, melainkan aksi nekat puluhan pemuda di Kecamatan Sepulu, Bangkalan, yang menggelar simulasi konflik melalui “perang petasan” dan balap lari liar pada Senin malam (09/03/2026). Aksi yang semula dianggap sebagai tradisi musiman ini pun berakhir prematur setelah jajaran Polres Bangkalan melakukan penggerebekan massal guna menjaga marwah bulan suci Ramadan.

Anomali Kamtibmas: Antara Adrenalin dan Ketertiban Umum

Secara Sosiologi Perkotaan, fenomena perang petasan di bulan Ramadan merupakan sebuah anomali psikologi massa yang kerap berulang. Meskipun aparat kepolisian telah mengintensifkan patroli Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD), dorongan eksistensi kelompok melalui suara ledakan dan kecepatan (balap lari) seolah menjadi magnet bagi para pemuda di jalur utara.

Kasi Humas Polres Bangkalan, Ipda Agung Intama, menegaskan bahwa operasi ini bukan sekadar tindakan represif, melainkan bentuk perlindungan terhadap hak warga untuk beribadah dengan khusyuk. “Kegiatan penyisiran ini kami lakukan secara tegas untuk mencegah potensi gangguan kamtibmas yang mengganggu kenyamanan warga,” ujarnya pada Selasa (10/03/2026). Secara Administrasi Publik, efektivitas KRYD diuji dalam menangani dinamika masyarakat yang cenderung mengabaikan keselamatan demi kesenangan sesaat di fasilitas umum.

Hukum dan Logika Bahaya: Dari Jalanan ke Meja Hijau

Langkah sigap Polres Bangkalan berkolaborasi dengan Polsek Sepulu menunjukkan komitmen penegakan hukum yang tidak berkompromi. Pihak kepolisian tidak hanya membubarkan kerumunan, tetapi juga memberikan peringatan keras (strong warning) serta memburu para perakit barang berbahaya tersebut.

Secara Teori Keamanan Nasional, pembiaran terhadap perakitan petasan tanpa izin merupakan risiko keamanan serius. Energi kinetik dan bahan peledak low-explosive dalam petasan bukan hanya mengancam pelaku, tapi juga pengguna jalan umum. Polres Bangkalan menegaskan, siapa pun yang tetap bersikeras merakit atau memproduksi barang tersebut akan berhadapan langsung dengan konsekuensi hukum yang nyata.

Ramadan: Menjemput Damai, Bukan Ledakan

Ketegangan di Selat Hormuz mungkin jauh di seberang samudera, namun ketegangan di jalanan Sepulu adalah ancaman nyata di depan mata. Ramadan semestinya menjadi momentum kontemplasi dan kedamaian, bukan ajang “unjuk gigi” melalui ledakan yang meresahkan. Penertiban yang dilakukan Polres Bangkalan adalah pengingat penting: bahwa kebebasan berekspresi di ruang publik berakhir ketika kenyamanan dan keselamatan orang lain mulai terancam.

Red./Editor: Ferry Arbania | MaduraExpose.com

Avatar

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Maraton Hibah Jatim: KPK Gali Keterangan 13 Saksi, Dua Kades Bangkalan Hadir

Terbit: 18 April 2026 | 00:32 WIB BANGKALAN – Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami struktur penyaluran dana hibah APBD Provinsi Jawa Timur tahun anggaran 2021-2022. Bertempat di…

Sekda Tidur Pulas di LKPJ Bupati: LIRA Bangkalan Desak Ismet Efendi Dicopot

Terbit: 11 April 2026 | 19:25 WIB BANGKALAN, MADURAEXPOSE.COM – Sebuah insiden memprihatinkan mencoreng jalannya sidang paripurna di DPRD Bangkalan. Sekretaris Daerah (Sekda) Bangkalan, Ismet Efendi, tertangkap kamera di duga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *