Paku Bumi Sumenep: Deretan Ulama Kharismatik dan Waliyullah yang Membentuk Sejarah Madura

Terbit: 12 Februari 2026 | 03:10 WIB

MADURA EXPOSE – Sumenep bukan hanya sekadar “Kota Keris”, melainkan daerah yang diberkati dengan julukan “Buminya para Wali”. Jejak langkah para kiai dan ulama di ujung timur Pulau Madura ini telah menjadi fondasi spiritual, penggerak pendidikan, hingga simbol perlawanan terhadap penjajah. Mengulas sejarah mereka adalah upaya menjemput barokah dari perjuangan yang tak kunjung padam.

Berikut adalah para paku bumi, tokoh kiai, dan ulama berpengaruh di Sumenep yang jejaknya abadi di hati umat:

1. Kiai Agung Batu Ampar (Syeikh Abdullah)

Beliau adalah ulama besar yang menjadi “hulu” dari silsilah banyak ulama dan penguasa di Madura. Makamnya di kompleks Asta Batu Ampar menjadi pusat spiritual yang diziarahi ribuan orang. Beliau dikenal sebagai sosok waliyullah yang menurunkan garis keturunan orang-orang besar di tanah Madura.

2. Poros Peradaban Annuqayah: KH. Muhammad Syarqawi & KH. Abdullah Sajjad

Berbicara tentang Sumenep takkan lepas dari Pondok Pesantren Annuqayah di Guluk-Guluk.

  • KH. Muhammad Syarqawi: Ulama asal Kudus yang membawa cahaya ilmu ke Sumenep dan mendirikan Annuqayah. Beliau adalah peletak dasar pendidikan pesantren modern di Madura.

  • KH. Abdullah Sajjad: Putra Kiai Syarqawi yang dikenal sebagai kiai pejuang. Beliau gugur sebagai syahid setelah dieksekusi oleh penjajah Belanda karena keteguhannya mempertahankan kemerdekaan. Semangat “Syahid Sajjad” hingga kini menjadi api perjuangan bagi para santri.

3. KH. Ahmad Basyir AS (Annuqayah)

Generasi penerus Annuqayah yang sangat dicintai. KH. Ahmad Basyir AS dikenal sebagai sosok yang sangat tawadlu, alim, dan menjadi rujukan spiritual nasional. Kedalaman ilmunya menjadikannya magnet bagi siapa pun yang haus akan bimbingan ruhani.

4. KH. Ahmad Fauzi Sirran (PP Al-Ihsan, Pragaan)

Bergeser ke arah barat Sumenep, terdapat sosok kharismatik KH. Ahmad Fauzi Sirran, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan, Jaddung, Pragaan. Beliau adalah ulama yang sangat dihormati karena kedalaman ilmu agamanya dan perannya dalam membina masyarakat. Kehadiran beliau menjadikan wilayah Pragaan sebagai salah satu pusat pendidikan Islam yang sangat diperhitungkan di Sumenep.

5. KH. Abisyujak (Kebunagung)

Sejarah mencatat beliau sebagai ulama pejuang yang militan. Pesantren yang beliau asuh di Banasokon bukan hanya tempat mentransfer ilmu agama, melainkan juga menjadi markas pelatihan fisik dan mental bagi para pejuang lokal untuk melawan hegemoni penjajah.

6. Kiai Imam (Empu Pandian)

Seorang waliyullah yang unik, guru dari Kiai Raba. Beliau menggabungkan dimensi spiritual dengan keahlian budaya sebagai seorang pandai keris (empu). Di tangan beliau, keris bukan sekadar senjata, melainkan simbol doa dan ketaatan kepada Sang Pencipta.


Ziarah Asta: Menyambung Sanad Spiritual

Hingga hari ini, makam-makam beliau (Asta) tidak pernah sepi dari lantunan doa. Bagi masyarakat Sumenep, menziarahi para paku bumi ini adalah cara menjaga “sambungan” batin dengan para kekasih Allah yang telah mewakafkan hidupnya untuk agama dan bangsa. [Red]

Pemberitahuan Redaksi (Disclaimer): Tulisan ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah dan literatur yang tersedia. Mengingat luas dan dalamnya sejarah perjuangan para ulama di Sumenep, redaksi menyadari kemungkinan adanya kekurangan dalam penulisan nama, gelar, maupun detail peristiwa. Kami sangat terbuka terhadap masukan, kritik, maupun koreksi demi kesempurnaan catatan sejarah ini. Silakan sampaikan koreksi Anda melalui email resmi redaksi kami di: maduraexposenews@gmail.com.

“Mari kita kirimkan Al-Fatihah untuk para Masyayikh yang disebutkan dalam artikel ini…”

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *