Menjemput Barakah di Langit Pangarangan: Haul Ke-43 Pendiri PPMA dan Manifestasi Sanad Ilmu yang Tak Pernah Putus

Terbit: 12 Februari 2026 | 19:57 WIB

Khidmat Haul ke-43 Pendiri PPMA Pangarangan Sumenep: Ribuan Santri Jemput Barakah



SUMENEP, MADURA EXPOSE – Aroma wangi kemenyan spiritual dan gema kalimat thayyibah membubung tinggi dari kubah Masjid Aminah, Desa Pangarangan, Kamis (12/02/2026). Ribuan santri, alumni, dan para muhibbin tumpah ruah dalam satu barisan khusyuk, merayakan Haul ke-43 Pendiri Pondok Pesantren Mathaliul Anwar (PPMA) Sumenep.

Bagi masyarakat Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), haul bukan sekadar seremoni kalender. Ia adalah momentum “Koneksi Langit” untuk menyambung ghirah perjuangan para muassis (pendiri) yang telah mewakafkan hidupnya demi tegaknya panji Islam di bumi Sumenep.

Spirit Khidmah dan Magnet Spiritual Masjid Aminah

Sejak mentari tepat di atas kepala, shaf-shaf Masjid Aminah sudah terkunci rapat. Para alumni yang kini telah menjadi tokoh masyarakat, kepala daerah, hingga seniman, menanggalkan atribut dunianya. Mereka duduk bersimpuh, bersanding dengan santri-santri muda, meluruhkan ego dalam balutan sarung dan kopyah, demi satu tujuan: Tabarruk (mencari berkah) kepada sang guru.

Lantunan Khotmil Quran dan Tahlil yang dipimpin oleh para sesepuh, di antaranya KH Hosni Abdillah, KH Rahman Abdullah, dan jajaran keluarga besar Abdullah lainnya, menciptakan vibrasi spiritual yang menggetarkan batin. Ini adalah bukti nyata bahwa sanad ilmu di PPMA Pangarangan bukan sekadar deretan nama, melainkan ikatan batin yang mutawattir (bersambung terus-menerus).

Transformasi Intelektual: Antara Doa dan Bedah Buku

Ada yang istimewa dalam haul kali ini. Selain ritual tahlil yang sarat makna ukhrawi, PPMA menunjukkan sisi modernitas-intelektualnya melalui agenda Bedah Buku.

Langkah ini menunjukkan bahwa PPMA adalah pesantren yang dinamis. Di satu sisi menjaga Turats (kitab kuning) secara ketat, di sisi lain membuka ruang diskursus intelektual untuk membedah pemikiran sang pendiri. Ini adalah manifestasi dari kaidah ushul fiqh:

“Al-muhafazhatu ‘ala qadimis shalih, wal akhdu bil jadidil ashlah” > (Memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil inovasi baru yang lebih baik).

Alumni: Produk Nyata “Barakah” Guru

PPMA Pangarangan telah bertransformasi menjadi pabrik pencetak Sumber Daya Manusia (SDM) unggul. Alumni yang hadir hari ini adalah saksi hidup betapa “tangan dingin” sang pendiri mampu mencetak figur-figur sukses di berbagai lini, tanpa kehilangan jati diri sebagai santri.

“Haul ini adalah momentum re-charging spiritual. Kita kembali ke Pangarangan untuk menundukkan kepala, mengakui bahwa setinggi apa pun jabatan kita, kita tetaplah santri yang haus akan doa guru,” ungkap Ali Hafidz, salah satu alumni yang hadir dengan mata berkaca-kaca.

Penutup: Merawat Akar, Menggapai Pucuk

Peringatan Haul ke-43 ini mengirimkan pesan kuat kepada dunia digital: Bahwa di tengah gempuran moderasi dan modernitas, pesantren tetap menjadi benteng terakhir yang menjaga moralitas bangsa.

Selamat jalan para kekasih Allah, doa kami selalu membumbung untukmu. Semoga cahaya PPMA Pangarangan terus menyinari Madura dan Indonesia.

  • administrator

    www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

    Related Posts

    Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

    Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

    Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

    Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *