Kritis dan Tegas! Ketua PCNU Sumenep, Kiai Pandji Taufik: Sumenep Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Soroti AMDAL, Fosfat, dan Kemiskinan Terparah di Jatim

Terbit: 9 Desember 2025 | 22:08 WIB

SUMENEP – Suasana Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Sumenep di Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Ahad malam (7/12/2025), menjadi arena penyampaian pesan kritis yang mengagetkan banyak pihak. Di hadapan Wakil Bupati Sumenep, KH. Imam Hasyim, Ketua PCNU Sumenep, Pandji Taufik, menyampaikan pandangan tajam terkait kondisi Sumenep yang dinilai sedang menghadapi masalah krusial.

Dengan diksi khas Nahdliyin yang lugas namun santun, Pandji Taufik menyoroti isu lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, hingga jeratan kemiskinan yang membelit masyarakat.

Peringatan Keras dari Kiai NU Soal AMDAL yang Tidak ‘Hakiki’

Dalam sambutannya, Pandji Taufik membuka kritik dengan meminta maaf (saporana) agar pesannya tidak dianggap menyinggung pihak tertentu. Ia kemudian menunjuk langsung pada persoalan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) di wilayah pesisir.

“Mohon Kiai Imam, saporana sekali lagi, benni gung-singgungan (tidak bermaksud menyinggung). Sumenep tidak dalam sedang baik-baik saja, khususnya dalam soal lingkungan,” ujar Pandji Taufik, yang merupakan Alumni Pesantren Annuqayah.

Kiai Pandji menegaskan bahwa hampir sepanjang pantai Sumenep kini terancam oleh ulah pengusaha yang diduga melakukan kegiatan tanpa AMDAL yang hakiki—yakni kajian yang mendalam dan berintegritas.

Ia menduga, jika pun AMDAL dilakukan, prosesnya kurang mendapat partisipasi dari masyarakat. Pandangan ini menggarisbawahi pentingnya keterbukaan dan keterlibatan umat dalam setiap kebijakan yang berdampak pada lingkungan hidup, sejalan dengan prinsip fikih lingkungan yang diusung NU.

Kaya Raya Namun Rakyat Menderita: Sorotan terhadap Fosfat dan Minyak

Sorotan Ketua PCNU Sumenep ini tidak berhenti pada isu AMDAL. Ia juga menyinggung eksploitasi sumber daya alam lainnya, seperti persoalan fosfat dan pengeboran minyak di wilayah Sumenep.

Pandji Taufik menyayangkan paradoks yang terjadi: Sumenep yang sering disebut sebagai kabupaten kaya raya justru menghadapi tingkat kemiskinan yang memprihatinkan.

“Belum lagi fosfat, belum lagi pengeboran minyak, sehingga Sumenep yang sering kita bicarakan secara bersama bahwa, Sumenep adalah kabupaten yang kaya raya tetapi kita makin menderita. Penduduknya banyak yang miskin, bahkan kalau tidak salah nomor tiga, di Jawa Timur penduduk termiskin berada di Kabupaten Sumenep,” tandasnya dengan nada meyakinkan.

Pernyataan ini merupakan otokritik dan panggilan serius bagi pemerintah daerah (yang diwakili oleh Wabup Imam Hasyim) untuk meninjau kembali tata kelola sumber daya alam yang seharusnya membawa kemaslahatan umat, bukan penderitaan.

NU Siap Ulurkan Tangan dan Jadi ‘Khodim’ Pemerintah

Menyadari kompleksitas persoalan, PCNU Sumenep menegaskan sikap moderat dan kolaboratif. Pandji Taufik menyampaikan keprihatinan sekaligus kesiapan NU untuk mengulurkan tangan.

“Maka, ini NU mengulurkan tangan kepada para pihak, khususnya kepada pemerintah. Kami menjadi pesuruh, menjadi khodim (pelayan), bagaimana membicarakan persoalan-persoalan ini,” lanjutnya.

Kiai Pandji berharap, persoalan krusial ini akan menjadi bahan bahasan utama dalam permusyawaratan Konfercab, dan hasilnya dapat dirangkai menjadi solusi konkret.

Ia menutup sambutannya dengan harapan agar Konfercab menghasilkan kepemimpinan Nahdlatul Ulama yang “lebih gesit, lebih muda, dan lebih visoner,” demi pengelolaan jam’iyah yang lebih baik ke depan.***

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Haji Her di Hyatt dan Teka-teki KPK

Terbit: 10 April 2026 | 00:00 WIB MADURAEXPOSE.COM – JAKARTA – Tokoh sentral industri tembakau Madura, Khairul Umam alias Haji Her, akhirnya memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait pusaran…

Mimpi Buruk ‘Paman Sam’ di Tanah Persia: Mengapa Iran Sulit Ditaklukkan?

Terbit: 8 April 2026 | 04:00 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyeret nama Iran ke pusaran spekulasi militer global. Di tengah “jurus mabuk” kebijakan luar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *