Kementan ‘Paksa’ Milenial Kuasai Traktor Roda Empat Demi Pesta Swasembada Pangan

Terbit: 2 Desember 2025 | 01:31 WIB

BANGKALAN) – Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat, menggelar manuver masif di lapangan untuk merevolusi wajah pertanian Indonesia. Targetnya tunggal: mengakhiri ketergantungan pangan impor dan memicu lonjakan Indeks Pertanaman (IP) secara gila-gilaan. Skema pamungkas yang diandalkan adalah Brigade Pangan, sebuah program yang kini didorong untuk menjadi garda terdepan modernisasi berbasis teknologi.

Presiden, melalui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, berulang kali menekankan bahwa petani muda bukan lagi sekadar buruh tani, melainkan CEO agribisnis. Program ini dirancang untuk mengubah narasi, menjadikan bertani sebagai profesi yang menjanjikan, bahkan berpotensi menghasilkan keuntungan bersih hingga Rp4,46 miliar per Brigade dalam setahun, memungkinkan anggotanya mengantongi penghasilan rata-rata Rp10 juta per bulan.

Jatim Jadi Arena Tempur Alsintan

Jawa Timur dipilih menjadi arena inisiasi. Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan tancap gas di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, menggelar pelatihan penyiapan kompetensi Brigade Pangan antara 26 hingga 28 November 2025. Sepuluh petani milenial yang terbagi dalam dua kelompok, Brigade Maju Bersama dan Brigade Rukun Bersama, dipaksa keluar dari zona nyaman.

Pelatihan ini jauh dari teori di kelas. Fokusnya adalah penguasaan Alsintan (Alat dan Mesin Pertanian): cara mengoperasikan, mengenal seluk-beluk, dan merawat Traktor Roda 4 (TR4) yang mahal dan modern, serta Traktor Roda 2 (TR2).

Langkah ini bukan sekadar pamer alat. Modernisasi Alsintan adalah kunci untuk mengatasi tantangan terbesar: percepatan tanam dan panen, yang menjadi syarat mutlak kenaikan Indeks Pertanaman (IP) dari IP 100 menjadi IP 200, atau bahkan menembus IP 300 di sentra-sentra produksi.

Perang Melawan Manajerial Buta

Kementan sadar, kepintaran mengoperasikan mesin saja tidak cukup. Brigade Pangan harus berperang melawan kelemahan manajerial yang selama ini menghantui kelompok tani tradisional. Oleh karena itu, kurikulum pelatihan memasukkan pembekalan catatan usaha tani yang ketat, meliputi pembuatan rekening kelompok, rekening penyusutan alsintan, dan rekening transaksi.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pertanian Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Idha Widi Arsanti, menegaskan, keberhasilan program ini sepenuhnya bergantung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan. Brigade Pangan harus unggul, adaptif, dan inovatif, bukan hanya soal teknis, tetapi juga kelembagaan yang kuat.

Kolaborasi antara Brigade Pangan, penyuluh pertanian, dan instansi terkait harus diperketat. Tanpa sinergi yang disiplin, mimpi Mentan untuk melibatkan generasi milenial dalam mendukung pertanian modern dan menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia hanya akan kandas di meja rencana. Laporan lapangan menunjukkan, saat ini Kementan juga menggandeng TNI untuk menanamkan kedisiplinan dan mempercepat realisasi program di banyak daerah.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Maraton Hibah Jatim: KPK Gali Keterangan 13 Saksi, Dua Kades Bangkalan Hadir

Terbit: 18 April 2026 | 00:32 WIB BANGKALAN – Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami struktur penyaluran dana hibah APBD Provinsi Jawa Timur tahun anggaran 2021-2022. Bertempat di…

Sekda Tidur Pulas di LKPJ Bupati: LIRA Bangkalan Desak Ismet Efendi Dicopot

Terbit: 11 April 2026 | 19:25 WIB BANGKALAN, MADURAEXPOSE.COM – Sebuah insiden memprihatinkan mencoreng jalannya sidang paripurna di DPRD Bangkalan. Sekretaris Daerah (Sekda) Bangkalan, Ismet Efendi, tertangkap kamera di duga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *