Geliat Nikah Dini: Ikhtiar Meneguhkan Syiar, Merawat Generasi Rabbani di Sumenep

Terbit: 3 Agustus 2025 | 01:20 WIB

SUMENEP, (Maduraexpose.com) — Di tengah tantangan zaman yang kian menguji, sebuah ikhtiar mulia terukir di ufuk timur Madura. Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kota Sumenep, sebagai benteng terdepan dalam merawat keluarga sakinah, menggagas sebuah gerakan dakwah yang menggema. Melalui Seminar Nasional Gerakan Lajang Indonesia Anti Tergesa Nikah (GELIAT) yang bertema “Stop Stunting, Skip Nikah Dini! Remaja Sehat, Masa Depan Hebat,” mereka mengajak seluruh umat untuk merenungi sebuah amanah besar: membangun generasi yang paripurna.

 

Acara yang berlangsung penuh hikmah di Aula Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAIM) Terate Sumenep, Kamis (31/08/2025), dibuka langsung oleh sosok pemimpin yang menaungi Kemenag Sumenep, Abdul Wasid. Dalam sambutannya, beliau tak henti-hentinya mengingatkan, bahwa pernikahan dini bukanlah solusi, melainkan celah yang dapat merapuhkan fondasi keluarga, memicu masalah kesehatan seperti stunting, dan mengancam kualitas generasi penerus.

 

“Melalui GELIAT ini, kita bersama-sama ingin menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa setiap remaja memiliki hak untuk menempuh jalan hidupnya dengan matang, tanpa tergesa-gesa memikul amanah pernikahan di usia yang belum siap. Ini adalah bagian dari ikhtiar kita untuk membentuk generasi yang sehat akal, jasmani, dan rohani,” terang Abdul Wasid. Beliau berharap, seminar ini tak hanya menjadi seremonial sesaat, melainkan menjadi pijakan awal sebuah gerakan berkelanjutan untuk menekan angka pernikahan usia anak, demi lahirnya generasi muda yang cerdas, tangguh, dan bertakwa.

 

Seminar yang diselimuti atmosfer keilmuan Islami ini menghadirkan empat narasumber yang mumpuni di bidangnya, seolah menjadi cahaya yang menerangi jalan bagi para hadirin.

  • Marwan, Kepala KUA Kecamatan Kota Sumenep, memaparkan pandangan dari sisi fiqih dan regulasi, memberikan pemahaman utuh tentang esensi pernikahan yang berkah dan terencana.
  • R.A. Farah Diba Yulia, dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), menyajikan data ilmiah yang menegaskan korelasi antara pernikahan dini dan risiko stunting, serta strategi dalam merencanakan keluarga yang sejahtera.
  • Fatimatul Insyoniah, dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Pandian, memberikan pencerahan dari sudut pandang medis, menjelaskan dampak kehamilan pada usia muda dan betapa pentingnya menjaga kesehatan reproduksi remaja sebagai aset bangsa.
  • Sementara itu, Ning Hielma Hasanah, seorang psikolog, mengupas tuntas aspek psikologis yang mendera remaja saat dihadapkan pada tekanan sosial untuk menikah. Beliau menekankan pentingnya penguatan karakter dan kemandirian sebagai bekal menuju masa depan yang cerah.

Ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari santri, mahasiswa, penyuluh agama, hingga tokoh masyarakat, memadati ruangan, menunjukkan betapa pentingnya isu ini bagi mereka. Seminar GELIAT menjadi bukti nyata bahwa semangat dakwah dalam merawat umat dapat disinergikan dengan ilmu pengetahuan, menghasilkan gerakan yang bukan hanya menyehatkan fisik, tetapi juga menguatkan iman, demi lahirnya generasi Rabbani yang menjadi harapan agama, bangsa, dan negara.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *