Fadhilah Hari Rabu dan Tauhid yang Murni

Terbit: 10 September 2025 | 02:53 WIB

Dalam khazanah tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), setiap hari yang Allah Azza wa Jalla ciptakan memiliki keunikan dan hikmahnya tersendiri. Namun, hari Rabu (yaumul arba'a) seringkali menjadi sorotan, di antara keberkahan dan kesalahpahaman yang menyelimutinya. Dengan menelusuri dalil-dalil syar’i dan atsar para salafus shalih, kita akan mendapati bahwa hari Rabu memiliki banyak keutamaan yang patut kita renungkan, seraya membersihkan diri dari akidah yang tercemar thiyarah (menganggap sial) atau tathayyur.

 

Cahaya Ilmu dan Mustajabnya Doa

 

Kaum mu'minin meyakini bahwa hari Rabu adalah hari di mana Allah subhanahu wa ta'ala menciptakan an-nur (cahaya). Sebagian ulama menafsirkan bahwa cahaya ini adalah simbol dari ilmu an-nafi' (ilmu yang bermanfaat). Oleh karenanya, banyak masyayikh dan kiai yang memulai majlis ta'lim dan muthala'ah kitab di hari Rabu. Dengan harapan, Allah ta'ala akan melimpahkan barakah dan futuh (terbukanya pemahaman) dalam menuntut ilmu.

Selain itu, hari Rabu juga dikenal sebagai waktu mustajab untuk berdoa. Riwayat dari Sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu mengisahkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berdoa di Masjid al-Fath pada hari Rabu, antara waktu dzuhur dan ashar, hingga doa beliau dikabulkan. Inilah yang menjadi landasan bagi kaum salaf untuk i'tikad bahwa doa di waktu tersebut memiliki fadhilah yang agung.

Dalil:

  • Hadits riwayat Jabir bin Abdullah RA:

    إِنَّ النَّبِيَّ e أَتَى مَسْجِدَ الْأَحْزَابِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الثُّلَاثَآءِ وَيَوْمَ الْأَرْبِعَآءِ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ, فَوَضَعَ رِدَآءَهُ فَقَامَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُوْ عَلَيْهِمْ أَيِ الْكُفَّارِ فَرَأَيْنَا الْبِشْرَ فِي وَجْهِهِ

    (Sesungguhnya Nabi SAW mendatangi masjid al-Ahzab di hari Senin, Selasa dan Rabu di antara waktu Dhuhur dan Ashar. Kemudian meletakkan selendangnya, lalu berdiri dan mengangkat kedua tangannya sambil mendoakan supaya orang-orang kafir mendapatkan siksa. Kemudian saya melihat nampak wajah gembira dari raut wajah Nabi.)

  • Hadits riwayat Imam al-Baihaqy:

    إِنَّ الدُّعَآءَ يُسْتَجَابُ يَوْمَ الْأرْبِعَآءِ بَعْدَ الزَّوَالِ

    (Sesungguhnya doa akan dikabulkan di hari Rabu setelah tergelincirnya matahari.)

 

Meluruskan Paham Thiyarah dan Tathayyur

 

Kendati demikian, di tengah keberkahan hari Rabu, ada pandangan yang keliru dan berbahaya, yakni i'tiqad yang menganggap hari tersebut, terutama hari Rabu terakhir di bulan tertentu, sebagai hari nahas (sial). Pandangan ini seringkali bersandar pada riwayat dha'if (lemah), bahkan dari ahli nujum (tukang ramal) yang seringkali mencampuradukkan haq (kebenaran) dengan batil (kebatilan).

Imam Ibnu Rusydi rahimahullah mengutip kisah Khalifah al-Mu’tashim yang sengaja memulai peperangan di hari Rabu dan Sabtu, bukan karena barakah hari tersebut, melainkan untuk membantah anggapan thiyarah yang merasuki kaum mu'minin. Dengan pertolongan Allah, khalifah tersebut mendapatkan fath (kemenangan) dan ghanimah (harta rampasan) yang melimpah ruah. Ini adalah bukti nyata bahwa kemenangan dan kesuksesan tidak ditentukan oleh hari atau bintang, melainkan sepenuhnya oleh qudrah dan iradah Allah Rabbul 'Alamin.

Dalil:

  • Hadits dha’if yang dianggap sebagai landasan thiyarah:

    آخِرُ أَرْبِعَآءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمٌ نَحِسٌ مُسْتَمِرٌّ

    (Rabu yang terakhir di setiap bulan merupakan hari sial.)

    Imam as-Sakhawi menilai riwayat ini dha'if (lemah) dan menjelaskan bahwa kesialan hanya berlaku bagi orang yang meyakininya.

  • Kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA:Saat Sayyidina Ali ditanya oleh ahli nujum mengenai waktu yang baik untuk berperang melawan kaum Khawarij, beliau menolaknya dan berujar:

    مَنْ صَدَّقَكَ فَقَدْ كَذَبَ عَلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَبَرِئَ مِنَ الإِسْلاَمِ

    (Barangsiapa yang membenarkan ucapanmu (tukang ramal), maka dia telah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya, dan telah berlepas diri dari Islam.)

Manakala seorang mu'min meyakini thiyarah dan menyandarkan kesialan atau keberkahan pada hari-hari tertentu, maka ia akan senantiasa diliputi oleh perasaan was-was dan tathayyur. Sebaliknya, bagi mereka yang bertawakkal sepenuhnya kepada Allah, maka tidak akan ada bahaya yang menimpa dirinya, bi idznillah.

Dalil:

  • Surat Az-Zumar ayat 52:

    أَوَلَمْ يَعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِي ذٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ

    (Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki)? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.)

    Ayat ini menjelaskan bahwa segala hal, termasuk rezeki, adalah murni kehendak Allah. Tidak ada campur tangan dari hari atau bintang.

Marilah kita istiqamah dalam tauhid yang murni, meyakini bahwa segala kebaikan dan keburukan datang dari Allah, Al-Qadir dan Al-Hakim. Dengan demikian, setiap hari adalah hari yang baik, hari yang penuh barakah dan anugerah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Avatar

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *