Senggol Bacok Musik Patrol Modung: Saat Tradisi Sahur Berubah Jadi Ajang ‘Gontok-gontokan’

Terbit: 16 Maret 2026 | 19:55 WIB

BANGKALAN – Tradisi membangunkan sahur yang sejatinya merupakan manifestasi kearifan lokal di Madura, mengalami degradasi makna pada Senin dini hari (16/3/2026). Di Desa Patereman, Kecamatan Modung, adu kreativitas musik patrol yang rutin digelar setiap Ramadan justru tereskalasi menjadi gesekan fisik yang mengakibatkan puluhan pemuda mengalami luka-luka.

Insiden ini bukan sekadar tawuran biasa, melainkan cerminan dari rapuhnya manajemen konflik sosial di tingkat akar rumput saat berhadapan dengan ego sektoral antarkampung yang gagal dikanalisasi secara positif.

Erosi Modal Sosial dan Patologi Konflik

Dalam perspektif sosiologi pemerintahan, tradisi patrol adalah bentuk Social Capital (modal sosial) yang berfungsi mempererat kohesi warga. Namun, ketika instrumen budaya ini disisipi oleh residu konflik pribadi dan provokasi petasan, yang terjadi adalah Social Pathology (patologi sosial).

Asrori, warga setempat, memaparkan bahwa pemicu utama adalah saling ejek yang merembet pada penggunaan petasan sebagai alat intimidasi. Secara teoretis, dalam kajian Administrasi Publik dan Keamanan, kegagalan mengelola kerumunan dalam aktivitas budaya sering kali berakar pada lemahnya mitigasi konflik di tingkat desa. Ketidakmampuan mengontrol emosi massa menunjukkan adanya gap dalam literasi resolusi konflik di kalangan pemuda.

Mediasi Restorative Justice di Rumah Kades

Respons cepat kepolisian dan tokoh masyarakat dalam meredam situasi patut dicatat. Kasi Humas Polres Bangkalan, Ipda Agung Intama, mengonfirmasi bahwa langkah hukum yang diambil mengedepankan prinsip Restorative Justice (keadilan restoratif) demi menjaga stabilitas kawasan.

Penyelesaian konflik melalui mediasi di rumah Kepala Desa merupakan implementasi dari Local Governance yang efektif. Dengan mempertemukan kedua belah pihak secara kekeluargaan, otoritas setempat berusaha memutus rantai dendam agar tidak menjadi konflik laten yang berkepanjangan.

“Kedua belah pihak sudah sepakat berdamai secara kekeluargaan,” ujar Ipda Agung. Namun, secara administratif, kejadian ini menjadi alarm bagi Pemerintah Kabupaten Bangkalan untuk mengevaluasi regulasi kegiatan keramaian di malam hari selama Ramadan guna menjamin Public Order (ketertiban umum) tetap terjaga tanpa memberangus tradisi asli Madura.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Maraton Hibah Jatim: KPK Gali Keterangan 13 Saksi, Dua Kades Bangkalan Hadir

Terbit: 18 April 2026 | 00:32 WIB BANGKALAN – Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami struktur penyaluran dana hibah APBD Provinsi Jawa Timur tahun anggaran 2021-2022. Bertempat di…

Sekda Tidur Pulas di LKPJ Bupati: LIRA Bangkalan Desak Ismet Efendi Dicopot

Terbit: 11 April 2026 | 19:25 WIB BANGKALAN, MADURAEXPOSE.COM – Sebuah insiden memprihatinkan mencoreng jalannya sidang paripurna di DPRD Bangkalan. Sekretaris Daerah (Sekda) Bangkalan, Ismet Efendi, tertangkap kamera di duga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *