maduraexpose.com

 

SUMENEP EXPOSE

Warga Binaan Rutan Sumenep Meninggal, Keluarga Menolak Autopsi Meski Didera Desas-Desus Ketidakwajaran

1094
×

Warga Binaan Rutan Sumenep Meninggal, Keluarga Menolak Autopsi Meski Didera Desas-Desus Ketidakwajaran

Sebarkan artikel ini

Napi Berinisial N (19) Asal Pragaan Meninggal Cepat Usai Salat Isya, Ayah Korban Ambil Sikap Ikhlas: “Saya Tidak Mau Menuntut, Sudah Waktunya Dipanggil Allah”

Sulaiman (kanan) ayah Penghuni Rutan Kelas II B Sumenep asal Desa Karduluk yang meninggal. [dok. MaduraExpose.com]

SUMENEP  – Misteri seputar meninggalnya seorang warga binaan Rutan Kelas IIB Sumenep berinisial N (19), asal Kecamatan Pragaan, perlahan menemukan titik akhir yang dramatis. Setelah desas-desus beredar di kalangan publik mengenai adanya dugaan ketidakwajaran dalam penanganan kesehatan dan administrasi kematian N pada 20 November 2025, pihak keluarga secara mengejutkan menyatakan menerima sepenuhnya tanpa syarat dan tuntutan.

Kisah pilu ini mencuat ke permukaan setelah pertemuan antara keluarga almarhum dan jajaran Rutan Sumenep pada Sabtu (29/11).

Sikap Ikhlas yang Mengakhiri Spekulasi

 

Dalam pertemuan yang disaksikan perwakilan pemerintah desa, Sulaiman, ayah kandung almarhum, dengan tegas menolak segala upaya investigasi lanjutan, termasuk visum atau autopsi.

“Saya bapaknya Nasihen, menerima kepergian anak saya. Saya tidak mikirin visum dan segala macam, saya memang tidak butuh itu. Saya menerima dengan ikhlas,” ujar Sulaiman dengan nada tenang di Rutan Sumenep.

Ketika didesak terkait dugaan adanya kelalaian dalam penanganan kesehatan anaknya, Sulaiman berulang kali menolak memperpanjang persoalan yang sudah menjadi rahasia umum di kalangan tertentu. “Saya tidak mau menuntut, maaf, maaf, maaf… anak saya sudah dipanggil Allah. Sudah waktunya. Saya tidak mau autopsi atau apa pun,” tegasnya.

Sikap Sulaiman ini secara efektif menutup peluang bagi aparat penegak hukum untuk membuka penyidikan lebih lanjut terkait penyebab pasti kematian N.

Kronologi Emergency Call dan Keterlambatan Komunikasi

 

Kepala Rutan Kelas IIB Sumenep, Heri Sutriadi, menjelaskan bahwa kematian N, narapidana kasus narkoba, berlangsung sangat cepat dan mendadak.

“Peristiwanya sangat cepat dan tidak diduga hingga meninggal di RSUD Moh. Anwar. Kami sangat prihatin dan turut berbelasungkawa. Dia adalah narapidana yang multitalenta, aktif di berbagai kegiatan, dan berkelakuan baik,” ungkap Heri, menceritakan profil almarhum.

Menurut kronologi versi Rutan, teman korban adalah yang pertama kali melihat kondisi N memburuk dan meminta pertolongan. Tim Rutan segera memanggil dokter, memberikan pertolongan pertama, dan membawa ke RSUD Moh. Anwar.

Namun, Heri mengakui adanya keterlambatan komunikasi dengan keluarga inti. “Kami menghubungi keluarga setelah korban dinyatakan meninggal. Kondisi kami saat itu kalut, sehingga komunikasi pertama dilakukan kepada kakak iparnya, Bustamin,” jelas Karutan.

Setibanya di kamar jenazah, keluarga langsung meminta jenazah segera dipulangkan tanpa proses tambahan, sebuah permintaan yang segera dipenuhi oleh pihak Rutan dengan penandatanganan berita acara.

Meski pihak Rutan mengklaim telah mengikuti prosedur emergency, sikap ikhlas penuh dari keluarga menjadi faktor penentu yang menghentikan desas-desus investigasi, menyisakan misteri yang terkubur bersama kepergian N.

[dbs/gim/tim]

Tonton Berita lainnya Melalui MADURA EXPOSE CHANNEL YOUTUBE:

--------EXPOSIANA----
GAYA SAMBUTAN ACHMAD FAUZI WONGSOJUDO

 


 


---Exposiana----