maduraexpose.com
Tari muang sangkal khas Keraton Sumenep, Madura. [Foto: Ferry Arbania/Maduraexpose.com]
Headline NewsZONA KAMPUS

Wakil Rektor UPI Suhartatik Soroti Kekerasan Simbolik: Rasa Hormat Terkikis dan Guru Disalahkan Ortu

231
×

Wakil Rektor UPI Suhartatik Soroti Kekerasan Simbolik: Rasa Hormat Terkikis dan Guru Disalahkan Ortu

Sebarkan artikel ini

Editor: Ferry Arbania

Suhartatik, Wakil Rektor UPI Sumenep secara tajam menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai krisis harkat, yaitu semakin menipisnya rasa hormat terhadap guru, baik dari siswa maupun orang tua.

SUMENEP – Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun ini tidak boleh lagi hanya menjadi rutinitas seremonial kosong. Wakil Rektor I Universitas PGRI (UPI) Sumenep, Suhartatik, menuntut refleksi kritis dan agitasi besar-besaran mengenai cara masyarakat dan negara memperlakukan serta menghargai profesi pendidik.

“Hari Guru bukan hanya untuk mengenang jasa mereka, tetapi momen kita bercermin. Apa yang sebenarnya sudah kita lakukan untuk guru? Banyak dari mereka masih mendapat perlakuan kurang baik,” tutur Suhartatik, menegaskan urgensi perubahan.

Krisis Penghormatan: Kekerasan Simbolik Terhadap Profesi

 

Suhartatik secara tajam menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai krisis harkat, yaitu semakin menipisnya rasa hormat terhadap guru, baik dari siswa maupun orang tua.

Ia menyebutkan indikator nyata dari krisis ini: murid yang enggan menundukkan kepala saat bertemu guru, hingga orang tua yang justru menyalahkan guru ketika anak mereka bermasalah di sekolah.

“Masalahnya bukan hanya kesejahteraan yang minim. Tetapi rasa hormat dan penghargaan kepada mereka sudah mulai terkikis,” tegasnya.

Menurut dosen di kampus berjuluk Taneyan Lanjhang Sumenep ini, dedikasi guru yang tetap hadir dengan semangat tinggi, bekerja dalam keterbatasan sarana dan kesejahteraan yang belum optimal, merupakan pengabdian luar biasa. Ia menilai, negara sesungguhnya memiliki utang besar kepada para pendidik yang terus membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa.

Solusi Akademik: Investasi Terbaik Adalah Investasi pada Guru

 

Suhartatik menegaskan bahwa perbaikan kualitas pembelajaran di Indonesia secara fundamental bergantung pada kualitas dan kesejahteraan guru. Peningkatan kualitas ini harus diwujudkan melalui tiga langkah konkret:

  1. Peningkatan Kesejahteraan: Memberikan gaji dan tunjangan yang layak.

  2. Perlindungan Profesi: Memberikan jaminan hukum terhadap guru saat menjalankan tugas.

  3. Pengembangan Kompetensi: Memperluas kesempatan pengembangan diri berkelanjutan.

“Guru yang sejahtera dan berdaya akan melahirkan pembelajaran berkualitas. Investasi terbaik bangsa adalah investasi pada guru,” seru Suhartatik, memberikan landasan akademik terhadap tuntutan kesejahteraan.

Terakhir, ia menutup dengan penegasan kontemporer yang relevan: meskipun teknologi dan kecerdasan buatan (AI) berkembang pesat, peran guru tidak akan pernah tergantikan.

“AI tidak akan pernah menggantikan guru. Guru mendidik dengan hati, dan itu tidak bisa digantikan,” pungkasnya, menekankan bahwa peran sentral guru sebagai pendidik moral dan emosional adalah abadi.

--------EXPOSIANA----
GAYA SAMBUTAN ACHMAD FAUZI WONGSOJUDO

 


 


---Exposiana----