SUMENEP – Dalam dua malam yang mencekam secara berturut-turut, warga Kabupaten Sumenep harus berhadapan dengan ancaman si jago merah. Dua insiden kebakaran di lokasi berbeda memaksa tim darurat bekerja ekstra cepat di tengah keganasan angin.
Tragedi pertama pecah di Desa Juluk, Kecamatan Saronggi, pada Senin malam (13/10/2025). Tepat pukul 22.00 WIB, sistem darurat SiLaPor 112 menerima laporan yang mengejutkan. Seorang warga bernama Joko mengabarkan bahwa sebuah rumah di dekat kediaman Kepala Desa tiba-tiba dilalap api dengan intensitas yang mengkhawatirkan.
Detik-Detik Api Mengepung di Bawah Angin Malam
Kabar darurat ini sontak mengaktifkan Command Center 112, yang tanpa jeda meneruskan notifikasi ke Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Bidang Pemadam Kebakaran Sumenep.
Situasi di lokasi dilaporkan sangat menegangkan. Regu siaga Damkar segera meluncur dengan mobil tangki dan peralatan lengkap. Namun, warga sekitar sudah terlebih dahulu dilanda kepanikan melihat kobaran api yang dengan cepat membesar dan meninggi. Angin malam yang cukup kencang menjadi musuh utama, bertindak sebagai penyebar yang mempercepat rembetan api ke bangunan lain.
“Begitu menerima laporan dari SiLaPor 112, kami langsung turunkan personel. Situasi malam itu cukup menegangkan, tapi berkat koordinasi cepat, api berhasil kita padamkan sekitar satu jam setelah laporan masuk,” ujar Kabid Damkar Satpol PP Sumenep, Sugiyanto. Kecepatan respons ini menjadi kunci penyelamat, mencegah amukan api menjalar ke permukiman padat lainnya.
Belum Genap 24 Jam, Kebakaran Kedua Menyusul
Warga Sumenep belum sempat bernapas lega. Belum genap 24 jam berselang, laporan kebakaran kedua kembali masuk ke pusat kendali 112. Kali ini, Selasa (14/10/2025) petang sekitar pukul 19.39 WIB, api berkobar di lahan terbuka di Desa Kebonagung, Kecamatan Kota Sumenep, tepatnya di area barat Asta Tinggi.
Warga bernama Ranu yang melihat asap tebal segera melapor, memicu aktivasi jalur cepat penanganan darurat yang sama. Tim Damkar kembali merespons dengan mengerahkan dua unit mobil pemadam dan empat personel.
“Kondisi cuaca panas dan tiupan angin kering menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api,” jelas Sugiyanto. Beruntung, karena lokasi kebakaran adalah lahan, api berhasil dikendalikan dalam waktu yang lebih singkat, kurang lebih tiga puluh menit operasi.
Peringatan Keras Damkar: Kecepatan Laporan Jadi Penentu
Meskipun dua insiden beruntun ini tidak menelan korban jiwa, Damkar Satpol PP Sumenep mengimbau masyarakat untuk sangat berhati-hati. Sugiyanto secara tegas mengingatkan warga agar tidak melakukan pembakaran sampah atau lahan tanpa pengawasan, terutama di tengah musim kemarau. “Api kecil bisa menjadi besar hanya dalam hitungan menit,” tegasnya.
Sugiyanto juga memuji peran krusial dari sistem SiLaPor 112. “Kecepatan laporan warga menjadi kunci. Begitu 112 menerima informasi, koordinasi langsung terjadi antara Command Center, Damkar, dan aparat setempat. Ini bukti sistem darurat kita bekerja efektif,” pungkasnya. Tim Damkar kini masih melakukan pendataan kerugian dan investigasi penyebab pasti dari dua kebakaran yang mengguncang Sumenep ini.









