Tengkes di Pagerungan Besar: Sebuah Ironi di Balik Kekayaan Migas

Terbit: 1 September 2025 | 22:27 WIB

SUMENEP, Madura Expose – Di balik gemuruh industri migas di perairan Sumenep, tersembunyi sebuah ironi pilu: tengkes (stunting) masih menjadi momok yang menghantui anak-anak di Desa Pagerungan Besar.

 

Saat jutaan dolar mengalir dari perut bumi, puluhan balita di pulau terpencil ini berjuang melawan kekurangan gizi. Lantas, bagaimana peran korporasi raksasa seperti SKK Migas dan Kangean Energy Indonesia (KEI) Ltd, yang seharusnya menjadi garda terdepan pembangunan?

 


 

Solusi Parsial di Tengah Masalah Sistemik

 

Respons yang diberikan adalah program “percepatan penanganan tengkes” selama 120 hari. Program ini menargetkan 20 anak dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

 

Langkah ini, meski patut diapresiasi, terasa seperti tambal sulam terhadap masalah yang jauh lebih besar. Apakah PMT selama empat bulan cukup untuk mengatasi akar masalah tengkes yang sering kali terkait dengan sanitasi buruk, edukasi minim, dan ketidaksetaraan akses kesehatan?

 

Bidan Koordinator Puskesmas Pagerungan Besar, Yuliani, mengungkapkan bahwa 20 kader posyandu telah dilatih dan akan mendampingi anak-anak ini.

 

Di sisi lain, Manager Humas KEI, Kampoi Naibaho, menekankan pentingnya peran kader posyandu dalam pencegahan. Namun, pertanyaan mendasar yang muncul adalah:

 

Mengapa program ini tidak menjadi bagian integral dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) sejak awal? Mengapa harus menunggu hingga masalah tengkes menjadi berita, barulah intervensi dilakukan?


 

Peran Lebih dari Sekadar Pemberi Bantuan

 

Kemitraan antara SKK Migas, KEI, dan Puskesmas Pagerungan Besar adalah sebuah keharusan, bukan sekadar pilihan. Namun, kemitraan ini harus melampaui program-program jangka pendek. Fokus seharusnya beralih dari sekadar penanganan, menjadi pembangunan berkelanjutan yang mencakup:

  1. Penguatan Infrastruktur Kesehatan: Membangun fasilitas kesehatan yang memadai dan memastikan ketersediaan tenaga medis profesional di daerah terpencil.
  2. Edukasi Gizi Komprehensif: Mengedukasi orang tua secara berkelanjutan, bukan hanya mengandalkan program 120 hari.
  3. Peningkatan Akses Sanitasi: Menyediakan air bersih dan sanitasi layak sebagai salah satu faktor krusial dalam pencegahan tengkes.

 

Tanpa pendekatan holistik ini, kasus tengkes di Pagerungan Besar hanya akan menjadi cerita yang terus berulang. Perusahaan migas tidak bisa hanya berfungsi sebagai ekstraktor sumber daya, tetapi harus menjadi mitra sejati dalam membangun kualitas hidup masyarakat.

 

Dukungan dana yang besar seharusnya tidak hanya berfokus pada target angka, tetapi juga pada pembangunan sistem yang mampu mencegah masalah serupa terjadi di masa depan.

 

 

Ini adalah panggilan bagi SKK Migas dan KEI: saatnya menanggalkan label “pemberi bantuan” dan mengambil peran sebagai agen perubahan yang sesungguhnya. [dbs/kab/gim]

  • administrator

    www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

    Related Posts

    Sidak Pasar Anom: Kapolres Sumenep Pastikan Stok Minyakita Aman dan Harga Stabil

    Terbit: 21 April 2026 | 23:20 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Menjaga stabilitas rantai pasok bahan pangan strategis, Kapolres Sumenep AKBP Anang Hardiyanto, S.I.K., melakukan inspeksi mendadak (sidak) ketersediaan minyak goreng…

    10 Hari Menuju Sensus Ekonomi 2026: Menakar Ulang Nadi Ekonomi Sumenep

    Terbit: 21 April 2026 | 22:50 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Sepuluh hari tersisa sebelum hajatan besar data nasional, Sensus Ekonomi 2026, resmi digelar. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep kini…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *