Mahasiswa Tuding Ada Upaya Pembungkaman, Polres Sumenep Membantah

Terbit: 1 September 2025 | 22:57 WIB

SUMENEP – Gelombang solidaritas atas insiden tragis yang menimpa pengemudi ojek online (ojol) di Jakarta kini merambat ke Sumenep.

 

Namun, aksi damai yang diinisiasi oleh Cipayung Plus justru memunculkan tudingan serius. Ratusan mahasiswa yang berunjuk rasa menuduh adanya upaya ‘suap’ untuk membungkam suara ojol di Sumenep agar tak ikut berdemonstrasi.


 

Tuduhan Serius dan Bantahan Keras

 

Menurut Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Khoirus Sholeh, tudingan ini didasarkan pada pengakuan sejumlah pengemudi ojol yang disebutnya telah menerima uang dengan syarat tidak bergabung dalam aksi solidaritas.

 

“Ada temuan dari pengakuan ojol, dirinya diberi sejumlah uang dengan catatan tidak boleh ikut aksi unjuk rasa,” kata Sholeh. Ia menilai tindakan ini sebagai bentuk penyuapan dan pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat.

 

 

Menanggapi tudingan yang berpotensi memicu kegaduhan, Kapolres Sumenep, AKBP Rivanda, memberikan bantahan keras. Ia menyatakan tidak tahu menahu soal dugaan suap tersebut.

 

“Tidak ada upaya suap seperti itu. Kalau ingin menyampaikan aspirasi, silakan saja. Kami tidak pernah melarang,” tegas Kapolres, sembari meminta agar demonstrasi berlangsung secara santun dan tertib.

 


 

Solusi Kompromi dan Penegakan Hukum

 

Tudingan yang disampaikan oleh Cipayung Plus ini menuntut respons yang lebih dari sekadar bantahan. Untuk meredam ketegangan dan menjaga kepercayaan publik, ada beberapa langkah yang bisa diambil oleh pihak berwenang:

 

  1. Penyelidikan Terbuka dan Transparan: Kapolres Sumenep dapat membentuk tim internal untuk menyelidiki dugaan yang disampaikan mahasiswa. Langkah ini akan menunjukkan komitmen institusi dalam menjaga integritas dan profesionalisme.
  2. Dialog Publik: Mengundang perwakilan mahasiswa Cipayung Plus dan komunitas ojol untuk duduk bersama, memfasilitasi dialog, dan mencari solusi damai. Hal ini penting untuk memastikan setiap pihak dapat menyampaikan aspirasinya tanpa harus merasa terintimidasi.

 

 

Aksi solidaritas ini, yang digawangi oleh berbagai elemen mahasiswa seperti PMII, HMI, GMNI, IMM, dan BEMSU, merupakan cerminan dari kegelisahan terhadap hak-hak sipil.

 

Insiden yang menimpa Affan Kurniawan di Jakarta menjadi momentum bagi mereka untuk bersuara. Maka, tuduhan adanya upaya suap ini tidak bisa dianggap remeh.

 

Tanpa penyelidikan yang berimbang dan transparan, dugaan ini berpotensi merusak kredibilitas aparat penegak hukum dan memicu ketidakpercayaan publik. [dbs/gim/bjt]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Sidak Pasar Anom: Kapolres Sumenep Pastikan Stok Minyakita Aman dan Harga Stabil

Terbit: 21 April 2026 | 23:20 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Menjaga stabilitas rantai pasok bahan pangan strategis, Kapolres Sumenep AKBP Anang Hardiyanto, S.I.K., melakukan inspeksi mendadak (sidak) ketersediaan minyak goreng…

10 Hari Menuju Sensus Ekonomi 2026: Menakar Ulang Nadi Ekonomi Sumenep

Terbit: 21 April 2026 | 22:50 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Sepuluh hari tersisa sebelum hajatan besar data nasional, Sensus Ekonomi 2026, resmi digelar. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep kini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *