Tausiyah Khodimul Ma’had Annuqayah: Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir Ingatkan Peserta Konfercab PCNU Sumenep, Pemimpin Adalah Pelayan Umat

Terbit: 7 Desember 2025 | 14:58 WIB

Sumenep, Jawa Timur – Pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep 2025 yang diselenggarakan hari ini, Minggu (7/12/2025), di Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, menjadi lebih bermakna dengan kehadiran dan tausiyah dari Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir.

Tokoh kharismatik yang juga menjabat sebagai Pengasuh (atau Khodimul Ma’had) Ponpes Annuqayah Latee ini, hadir memberikan sambutan yang penuh makna filosofis ke-NU-an, menekankan esensi kepemimpinan dalam perspektif Ahlussunnah Wal Jamaah.

Dari Rais Syuriah PBNU, Hadir Sebagai Pelayan Pesantren

Meskipun saat ini Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir memegang posisi strategis di tingkat nasional sebagai Rais Syuriah PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), beliau memilih untuk memperkenalkan diri sebagai pelayan.

“Saya berdiri di sini, walaupun keluar mandat—mandat dalam arti mendapat tugas sebagai Rais Syuriah PBNU—karena saya sebagai Rais Syuriah PBNU, saya hadir di sini sebagai Khodimul Ma’had (Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Latee),” imbuh Kiai yang juga merupakan kakak kandung dari Kiai Hazmi Latee ini.

Dalam kapasitasnya sebagai pelayan pondok pesantren, beliau menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada seluruh peserta Konfercab PCNU Sumenep 2025.

“Saya sebagai khodimul ma’had, pelayan pondok pesantren Annuqayah Latee, mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam penyambutan, dalam pelaksanaan, dalam segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan konferensi ini banyak hal-hal yang kurang, mulai dari duduk di emperan, mulai suasana, cuaca yang panas tentunya,” kata Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir, Ahad (7/12).

Pepatah Arab dan Spirit Kepemimpinan NU

Inti dari sambutan beliau adalah penegasan terhadap spirit kepemimpinan yang harus dipegang teguh oleh jam’iyah NU, khususnya para calon pemimpin yang akan terpilih dalam forum Konfercab.

Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir mengutip dua pepatah Arab yang menjadi pegangan organisasi Islam tradisional.

1. Sayyidul Qaumi Khodimuhum

Beliau menekankan bahwa kepemimpinan sejati adalah pelayanan, sebuah konsep yang harus dipraktikkan dalam ber-khidmat kepada umat.

“Saya ingat pepatah dari pepatah Arab: ‘Sayyidul Qaumi Khodimuhum’. Pemimpin umat itu adalah Kabulenah (Pelayan) Umat.”

Pepatah ini menjadi pengingat bagi setiap pengurus yang akan memimpin PCNU Sumenep masa khidmat 2025–2030 bahwa otoritas tertinggi adalah melayani dan mengutamakan kepentingan jamaah.

2. Al Qaid Abun Qabla Ayyakuna ‘Amiron

Lebih lanjut, beliau juga menyampaikan pepatah yang mendefinisikan hubungan ideal antara pimpinan dan anggota.

“‘Al Qaid Abun Qabla ayyakuna ‘amiron’. Pemimpin adalah Ayah sebelum Ia menjadi pemberi Pemerintah. Jadi jangan suka menjadi pemberi perintah, tapi benar-benar mendengar suara dari bawah,” pungkas beliau.

Pesan ini sangat relevan dalam konteks Konfercab yang akan merumuskan rekomendasi dan program kerja. Kiai A’la berharap para pemimpin NU yang baru harus memiliki sifat kebapakan, mendengarkan aspirasi dari MWCNU dan Ranting di akar rumput, sebelum mengeluarkan instruksi atau kebijakan.

Dengan tausiyah ini, Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir memberikan pondasi spiritual dan filosofis bagi seluruh peserta Konfercab PCNU Sumenep, memastikan bahwa penentuan arah harakah dan pemilihan pemimpin hari ini berlandaskan pada semangat pengabdian dan keikhlasan kepada umat.***

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Haji Her di Hyatt dan Teka-teki KPK

Terbit: 10 April 2026 | 00:00 WIB MADURAEXPOSE.COM – JAKARTA – Tokoh sentral industri tembakau Madura, Khairul Umam alias Haji Her, akhirnya memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait pusaran…

Mimpi Buruk ‘Paman Sam’ di Tanah Persia: Mengapa Iran Sulit Ditaklukkan?

Terbit: 8 April 2026 | 04:00 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyeret nama Iran ke pusaran spekulasi militer global. Di tengah “jurus mabuk” kebijakan luar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *