Pesan Spiritual dari Annuqayah: Prof. A’la Basyir Tekankan Khidmat Sejati, Pemimpin NU Wajib Jadi Pelayan Umat dan Ayah Organisasi

Terbit: 7 Desember 2025 | 16:28 WIB

Sumenep  – Konferensi Cabang (Konfercab) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep 2025, yang digelar di Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Guluk-Guluk, hari ini, Minggu (7/12/2025), menjadi arena tausiyah (nasihat keagamaan) yang mendalam dari Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir.

Tokoh sentral NU sekaligus Khodimul Ma’had  Annuqayah Latee ini menggunakan kesempatan tersebut untuk menancapkan kembali fondasi filosofis kepemimpinan dalam jam’iyah NU. Pesan beliau lugas: kepemimpinan harus didasarkan pada semangat pelayanan dan kebapakan, bukan otoritas belaka.

Mandat PBNU dan Spirit Khodimul Ma’had

Prof. A’la Basyir, yang memegang jabatan strategis sebagai Rais Syuriah PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), memilih untuk merendahkan diri di hadapan peserta. Beliau menegaskan bahwa kehadirannya—meski dengan mandat nasional—adalah sebagai pelayan bagi pesantren yang menjadi tuan rumah.

“Saya hadir di sini sebagai Khodimul Ma’had (Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Latee),” tegas Kiai A’la, sapaan akrabnya.

Beliau bahkan secara terbuka memohon maaf atas segala kekurangan shohibul bait (tuan rumah): “Saya sebagai khodimul ma’had, pelayan pondok pesantren Annuqayah Latee, mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam penyambutan, dalam pelaksanaan, [ada] banyak hal-hal yang kurang, mulai dari duduk di emperan, mulai suasana, cuaca yang panas tentunya.”

Sikap tawadhu’ (rendah hati) ini menjadi pembuka sekaligus teladan tentang bagaimana seorang pemimpin NU harus bersikap.

Dua Pepatah Arab, Inti Kepemimpinan Aswaja

Inti pesan Prof. A’la Basyir ditujukan kepada seluruh jamaah dan pengurus, terutama yang akan memegang amanah pasca-Konfercab. Beliau mengutip dua maqolah (pepatah) Arab yang wajib menjadi etos khidmat di NU:

1. Pemimpin Umat Adalah Pelayan Umat

Prof. A’la mengutip pepatah yang amat terkenal dalam tradisi kepemimpinan Islam:

Sayyidul Qaumi Khodimuhum. Pemimpin umat itu adalah Kabulenah (Pelayan) Umat.”

Pesan ini menekankan bahwa otoritas tertinggi di NU, baik di tingkat MWCNU maupun PCNU, harus diwujudkan dalam kerja nyata dan pengabdian (khidmat) tanpa batas kepada umat. Ketua yang terpilih harus mengutamakan kepentingan jamaah di atas kepentingan pribadi atau golongan.

2. Ayah Sebelum Pemberi Perintah

Pesan kedua memiliki relevansi kuat dalam konteks hubungan organisasi vertikal dan horizontal di NU.

“‘Al Qaid Abun Qabla ayyakuna ‘amiron. Pemimpin adalah Ayah sebelum Ia menjadi pemberi Pemerintah. Jadi jangan suka menjadi pemberi perintah, tapi benar-benar mendengar suara dari bawah,” pungkas beliau.

Tausiyah ini berfungsi sebagai pengingat keras agar pemimpin NU yang baru tidak bersikap otoriter. Mereka harus memiliki sifat kebapakan, yang mengayomi, mendidik, dan paling utama, mendengarkan secara saksama aspirasi dari MWCNU dan Ranting di akar rumput, sebelum membuat instruksi atau kebijakan.

Pesan-pesan spiritual dan organisatoris ini diharapkan menjadi pondasi bagi PCNU Sumenep masa khidmat 2025–2030, memastikan bahwa harakah dan rekomendasi yang dihasilkan Konfercab hari ini benar-benar mencerminkan semangat pengabdian dan kebapakan yang menjadi ciri khas Ahlussunnah Wal Jamaah.***

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Mimpi Buruk ‘Paman Sam’ di Tanah Persia: Mengapa Iran Sulit Ditaklukkan?

Terbit: 8 April 2026 | 04:00 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyeret nama Iran ke pusaran spekulasi militer global. Di tengah “jurus mabuk” kebijakan luar…

Jari Netanyahu dan Nalar Sundar Pichai: Mengapa Algoritma Tak Bisa Dibodohi Narasi Receh?

Terbit: 20 Maret 2026 | 10:04 WIB Oleh: Redaksi Madura Expose Strategic PENGANTAR: DRAMA JARI VS LOGIKA DATA Dunia maya sedang gempar dengan hal-hal trivial. Media-media nasional bertransformasi menjadi “detektif…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *