JAKARTA, MADURAEXPOSE.COM – Kabupaten Sumenep kembali menorehkan tinta emas di panggung budaya nasional. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo, SH, MH, lima karya budaya asli ujung timur Pulau Madura resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia tahun 2025.
Penetapan prestisius ini diumumkan dalam ajang Apresiasi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2025 yang digelar Kementerian Kebudayaan RI di Jakarta. Dari ratusan usulan se-Nusantara, Sumenep sukses meloloskan lima delegasi budaya sekaligus.
Adapun lima kekayaan budaya yang kini sah menyandang status nasional tersebut adalah:
Kuliner Mentho (Cita rasa khas leluhur)
Jamasan Keris (Tradisi adiluhung pencucian pusaka)
Olahraga Tradisional Balbuddi
Tari Tengtere’
Tari Gambu
Buah Kerja Keras dan Kolaborasi
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, yang hadir langsung dalam agenda tersebut tak mampu menyembunyikan rasa bangganya. Sosok yang akrab disapa Cak Fauzi ini menegaskan bahwa capaian ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengakuan negara terhadap martabat budaya masyarakat Sumenep.
“Penetapan ini adalah bukti nyata bahwa budaya Sumenep memiliki nilai tinggi dan diakui secara nasional. Ini hasil kolaborasi apik antara pemerintah daerah, budayawan, seniman, dan seluruh masyarakat,” ujar Bupati Fauzi kepada media, Selasa (16/12/2025) malam.
Orang nomor wahid di lingkungan Pemkab Sumenep ini menambahkan, lima WBTB tersebut adalah ruh dan jati diri yang mencerminkan karakter kuat masyarakat Keraton.
Budaya Sebagai Penggerak Ekonomi
Tak hanya soal pelestarian, Ketua DPC PDI Perjuangan Sumenep ini memiliki visi besar untuk menjadikan status WBTB nasional ini sebagai motor penggerak sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Kami tidak ingin berhenti pada piagam. Budaya harus menjadi kekuatan ekonomi, menggerakkan pariwisata, dan memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat Sumenep,” tegas politisi yang dikenal dekat dengan kaum milenial ini.
Bupati Fauzi juga mengingatkan pentingnya estafet budaya kepada generasi muda agar tradisi ini tidak tergerus arus zaman. Menurutnya, budaya harus tetap relevan dengan dinamika modernitas tanpa mencabut akar nilai luhur yang dikandungnya.
“Budaya harus tetap relevan, namun ruh tradisinya tidak boleh hilang. Inilah komitmen kami dalam menjaga warisan leluhur Sumenep,” tutupnya dengan nada optimis.
Dengan tambahan lima WBTB nasional ini, Sumenep semakin mengukuhkan posisinya sebagai “The Soul of Madura” sekaligus pusat peradaban penting di Jawa Timur yang terus merawat kekayaan Nusantara. (Tim/Red)






