Sinyal Dingin dari Istana: Nasib Bahlil di Persimpangan Jalan?

Terbit: 12 Agustus 2025 | 02:00 WIB

Madura Expose – Sebuah momen singkat, namun penuh teka-teki, menggegerkan publik dan menjadi bisik-bisik hangat di lingkar kekuasaan. Gelagat tak biasa diperlihatkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat menghadiri upacara militer di Batujajar, Bandung Barat, Minggu (10/08/2025). Gibran tertangkap kamera seolah memberikan “sinyal dingin” kepada Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.

Ketika Gibran tiba, ia menyambut hangat para petinggi TNI, termasuk KSAD Maruli Simanjuntak dan KSAU Marsekal Tonny Harjono, dengan jabat tangan erat. Namun, saat melewati Bahlil, ia justru melewatkan tangan sang menteri, tanpa sedikit pun isyarat sapaan. Sebuah perlakuan yang kontras dengan Bahlil yang hanya bisa melirik tajam, menyaksikan pemandangan tersebut.

Ulang Skenario Prabowo, Bahlil Mendapat Perlakukan yang Sama?

Momen “terabaikan” ini sontak menyedot perhatian, sebab perlakuan Gibran ini seakan mengulang skenario yang pernah dilakukan Presiden Prabowo Subianto dua bulan lalu. Saat itu, Prabowo hendak terbang ke Singapura. Ia menyalami para menteri yang mendampingi, namun ketika Bahlil mengulurkan tangan, Prabowo hanya menunjuk tanpa membalas jabatannya.

Kejadian ini menjadi begitu ironis jika mengingat betapa Bahlil pernah memperlihatkan sikap hormat yang luar biasa kepada Gibran. Dalam Rapat Kabinet perdana, Bahlil bahkan terlihat mencium tangan Gibran sembari menunduk, sebuah gestur yang tak ia lakukan kepada Prabowo. Kini, sikap hangat itu seolah berbalik 180 derajat.

Badai Politik di Balik Panggung: Ancaman Munaslub Golkar

Apakah sinyal dingin dari Prabowo dan Gibran ini hanyalah kebetulan? Atau ini adalah pertanda bahwa Bahlil tengah berada di persimpangan politik? Gelagat ini muncul di tengah badai yang menerpa Bahlil di internal Partai Golkar. Isu Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) untuk menggulingkan Bahlil dari kursi Ketua Umum kian menguat.

Politisi senior Golkar, Ridwan Hisjam, mengonfirmasi adanya desakan dari kader-kader di daerah. “Banyak (dorongan) karena kader di bawah merasa suara Golkar berkurang. Mereka tahu pemilu hari ini suara kita turun, maka muncullah suara ketidaksenangan dan minta Munaslub dari daerah-daerah. Jadi sejak Pak Bahlil menjadi Ketum, ketika turun jadi muncullah dorongan Munaslub,” ujarnya.

Dengan guncangan di internal partai dan perlakuan dingin dari elite Istana, akankah Bahlil mampu bertahan? Atau ini adalah awal dari sebuah babak baru dalam karier politiknya? Waktu yang akan menjawab.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Siasat Ganda Prabowo: Tarik Utang Rp781 Triliun, Gandeng China ‘Sulap’ Sampah Jadi Cuan!

Terbit: 13 Maret 2026 | 20:25 WIB JAKARTA, MaduraExpose.com – Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mulai memetakan arsitektur keuangan negara yang agresif sekaligus taktis untuk tahun anggaran mendatang.…

Tiket Terakhir Sekda: Tiga Kepala Dinas dalam ‘Genggaman’ Bupati Fauzi

Terbit: 23 Februari 2026 | 01:13 WIB MADURA EXPOSE, SUMENEP – Teka-teki mengenai siapa yang akan menduduki kursi jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep akhirnya memasuki babak krusial. Setelah melalui…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *