Sepenggal Kisah Penjual Kopi di Arek Lancor

0
1211
Nenek Suparmi (50) asal Desa Bugih, Kecamatan Kota saat berjualan di areal Monumen Arek Lancor Pamekasan, Madura [foto:Ferry Arbania/Maduraexpose.com]

Pamekasan, Maduraexpose.com- Lebih dari 25 tahun lamanya, Nenek Suparmi (50) menghabiskan waktunya berjualan kopi dan goreng pisan di trotoar Arek Lancor Pamekasan Madura, Jawa Timur.

Hingga berita ini diunggah, Nenek Suparmi yang tinggal di Desa Bugih, Kecamatan Kota ini masih bertahan melawan kantuk dan hentakan angin kemarau yang dingin menusuk tulang.

“Saya jualan kopi sejak puluhan tahun silam, sebelum saya menikah. Cari pekerjaan yang menghasilkan uang itu sangat sulit Nak. Jadi, terpaksa jualan kopi di Arek Lancor ini tiap malam”, tutur Nenek Suparmi saat berbincang dengan Maduraexpose.com, Sabtu dini hari (24/10/2015).

Perempuan yang memiliki satu anak ini berkisah, hasil penjualan kopi sebenarnya tidak seberapa dibanding dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Namun karena tidak ada pekerjaan lain, terpaksa bertahan untuk menyambung hidup.

“Alhamdulillah anak saya bisa lulus SMA, meski saya sebagai orang tuanya hanya berjualan kopi. Suami saya menarik becak”, imbuhnya menambahkan kisah hidupnya yang pahit.

Selain berjualan kopi, Nenek Suparmi juga menjual makanan ringan seperti kacang dan telur rebus. Baginya, hidup ini adalah perjuangan dan harus dijalani dengan ikhlas dan penuh syukur.

Kendati demikian, dirinya terus berusaha dan berdo’a agar nasibnya jauh lebih baik. Pihaknya tidak menampik sangat mengharapkan ada sentuhan dari pemerintah kabupaten Pamekasan.

“Seandainya saya dapat bantuan dari pemerintah semisal kompor untuk merebus air, saya pasti sangat senang”, sambungnya lagi dengan penuh harap.

FERRY ARBANIA|MADURA EXPOSE