Dinas Perikanan Kabupaten Sumenep punya misi mulia: menekan angka kemiskinan lewat optimalisasi budidaya rumput laut. Angka-angka yang dipaparkan pun sangat fantastis. Pada tahun 2024, produksi rumput laut diklaim mencapai ± 735.131,5 ton, menjadi yang tertinggi di Jawa Timur. Janji manis dari pemerintah yang menyebut banyak investor siap menampung hasil panen seolah menjadi angin segar bagi masyarakat pesisir.
Namun, di balik optimisme pemerintah, ada realitas pahit yang terus dialami oleh para petani. Mereka hidup dalam sebuah ironi: di satu sisi, panen melimpah, tapi di sisi lain, kesejahteraan tak kunjung didapat.
Janji Manis Investor vs. Kenyataan Harga Anjlok
Kepala Dinas Perikanan Sumenep, Agustiono Sulasno, optimistis bahwa rumput laut bisa menjadi jurus jitu untuk mengentaskan kemiskinan. Menurutnya, budidaya ini mudah dilakukan dan bisa menjadi penghasilan tambahan, bahkan bagi ibu rumah tangga. Ia juga menjanjikan, “beberapa investor baik dalam dan luar negeri” telah berkomitmen untuk menyerap hasil panen.
Namun, janji itu seolah hanya gema di udara. Di lapangan, para petani justru terjebak dalam masalah klasik yang terus berulang: harga rumput laut yang anjlok saat panen raya. Ketika pasokan melimpah, harga jual bisa jatuh drastis. Petani terpaksa menjual hasil panennya dengan harga yang sangat rendah kepada para tengkulak, jauh di bawah modal dan tenaga yang sudah mereka korbankan.
Apa artinya produksi tertinggi di Jawa Timur jika petani tetap merana? Jika investor benar-benar berkomitmen, mengapa masalah harga ini tidak pernah tuntas? Sepertinya ada rantai pasok yang tidak sehat, di mana petani tidak memiliki daya tawar dan hanya menjadi korban dari permainan harga.
Solusi Setengah Hati: Mengapa Potensi Tidak Maksimal?
Program bantuan yang diberikan pemerintah memang patut diapresiasi, tapi itu saja tidak cukup. Masalah mendasar yang dihadapi petani bukanlah soal cara budidaya, melainkan pada ekosistem ekonomi yang tidak adil. Mereka membutuhkan solusi jangka panjang yang mampu melindungi mereka dari fluktuasi harga yang brutal.
Alih-alih hanya fokus pada peningkatan produksi, pemerintah seharusnya juga memikirkan hilirisasi. Mengapa rumput laut Sumenep hanya dijual dalam bentuk mentah? Padahal, komoditas ini bisa diolah menjadi produk bernilai tambah seperti agar-agar, karaginan, atau bahan baku kosmetik. Dengan adanya industri pengolahan, harga jual menjadi lebih stabil dan keuntungan bisa dinikmati bersama.
Selain itu, pemberdayaan koperasi petani yang kuat juga menjadi kunci. Dengan bersatu, petani bisa memutus mata rantai tengkulak dan memiliki kontrol lebih besar atas harga jual.
Jika pemerintah serius ingin menekan kemiskinan, fokusnya tidak bisa lagi hanya pada data produksi yang tinggi. Sudah saatnya pemerintah melihat langsung derita di lapangan dan mencari solusi yang benar-benar memihak petani. Karena sejatinya, panen melimpah tanpa kesejahteraan hanya akan menjadi sebuah ilusi.


















