JAKARTA, (MaduraExpose.com) – Pengamat politik sekaligus filsuf terkemuka, Rocky Gerung, kembali melontarkan kritik pedas terhadap arah kebijakan luar negeri Indonesia pasca-tewasnya pemimpin tertinggi Iran. Rocky menilai, Jakarta seolah kehilangan “Kompas Strategis” dan hanya terjebak dalam retorika normatif yang tidak memiliki daya tawar di panggung geopolitik global.
Secara Teori Hubungan Internasional dan Administrasi Publik, posisi sebuah negara dalam merespons krisis di Timur Tengah adalah cerminan dari kemandirian politik luar negeri (bebas aktif). Namun, menurut Rocky, keterlambatan respons Indonesia menunjukkan adanya kebuntuan birokrasi dalam menerjemahkan dinamika hulu ledak nuklir dan ketegangan Iran-Israel ke dalam kepentingan nasional.
Akal Sehat Geopolitik: Antara Retorika dan Realita
“Diplomasi kita itu sedang mengalami disorientasi. Kita bicara perdamaian di meja makan, tapi di lapangan, hulu ledak sudah diarahkan ke titik koordinat. Indonesia harusnya menjadi dirigen, bukan sekadar penonton di barisan belakang yang telat tepuk tangan,” ujar Rocky dalam analisis terbarunya.
Kritik ini menyoroti bagaimana Struktur Administrasi Kemenlu seringkali terlalu berhati-hati dalam mengambil posisi tegas, yang justru membuat Indonesia terlihat “inferior” di hadapan kekuatan besar seperti Pentagon atau aliansi Timur Tengah. Dalam kacamata Geopolitik Akal Sehat, ketidakhadiran sikap yang cepat adalah kegagalan dalam membaca data intelijen global.
Kehilangan Kompas di Timur Tengah
Bagi Rocky, Indonesia tidak cukup hanya mengirimkan nota duka cita atau imbauan menahan diri. Dibutuhkan langkah taktis yang mampu menyeimbangkan ketergantungan ekonomi dengan integritas politik. “Jangan sampai karena takut pada investasi, kita kehilangan kedaulatan opini. Itu namanya diplomasi transaksional, bukan diplomasi konstitusional,” pungkasnya.








