Oleh:
Syahganda Nainggolan
Aktivis Sabang Merauke Circle

 https://youtu.be/uE7_iJSrt4A

SUATU waktu beberapa tahun lalu, sopir rental dan sahabat politik saya, Harun Songge, memberitahu saya di subuh hari bahwa perjalanan ke Gunung Kelimutu, Flores harus dibatalkan. Info dari pelayanan turis di Hotel, karena sudah mulai hujan gerimis dan kabut gelap. Kami menginap di Ende beberapa puluh kilometer dari gunung itu. Menginap di Ende karena saya memberi ceramah di Taman Renungan Soekarno, di kota Ende.

Saya sampaikan ke Songge bahwa jika Soekarno bisa bertapa di puncak gunung itu, puncak tugu Soekarno, maka saya, dulu aktivis student center ITB, tempat Soekarno kuliah dan menjadi aktivis, insya Allah akan sampai juga ke puncak itu.

Di bawah kaki gunung Kelimutu, yang tingginya setengah gunung Gede-Puncak, alias 1600an, guide atau pemandu atau kuncen kalau di Jawa, mengatakan hujan kabut gelap ini akan berubah terang jika “arwah” Bung Karno dan roh roh penjaga mengizinkan kita sampe ke puncak. Ada presiden Indonesia, dulu, jelasnya, mencoba naik ke puncak, gagal karena kabutnya tidak mau pergi, meski mengerahkan pawang hujan. Singkat cerita,  kami pelan-pelan mendaki ke atas, hujan dan kabut pun pelan-pelan menghilang. Dan sayapun berjam-jam merenung di puncak Tugu Soekarno itu. Sebuah tempat mistis, di kelilingi 3 danau indah, tempat Soekarno bertapa menggali Pancasila.

Pancasila

Bung Karno di Ende bukanlah sebagai anak umur millenial yang plesiran. Meskipun seorang engineer atau arsitek yang jumlahnya segelintir saat itu, yang punya kesempatan dibayar mahal, Soekarno merupakan tawanan kolonial Belanda, yang di usia mudanya radikal dan menghasut orang-orang Indonesia untuk melawan Belanda.

Pengasingan di Ende tahun 1934-38, dengan beban keluarga, Soekarno berpikir keras merumuskan sebuah ideologi bagi adanya suatu bangsa merdeka. Merenung di kota atau desa kala itu, di taman renungan dan bertapa di puncak gunung, diantara orang-orang Katolik dan Islam di sana, serta surat menyurat dengan tokoh-tokoh bangsa, termasuk A. Hasan, tokoh agama di Jawa, membuat Bung Karno mempunyai konsep holistik tentang Pancasila.

Apa itu konsep holistik? Konsep holistik pertama Pancasila harus bisa menjelaskan tentang masyarakat dan bangsa apa Indonesia itu? Kedua, bagaimana pendekatan dalam merumuskan konsep itu? Bung Karno adalah seorang insinyur maupun arsitek. Cara insinyur mendekati persoalan (approach) adalah “problem solver”, berbeda dengan cara filosof dan agamawan yang mengagungkan nilai, atau ahli ilmu sosial yang mendekati persoalan dengan kesempurnaan konsepsi.

Holistik di sini jadinya melihat realitas, menemukan masalah dan memecahkannya. Realitas bangsa kita saat itu adalah bangsa dalam cengkeraman kolonial, masalahnya adalah keterpecahan; lalu bagaimana pemecahannya?

Dengan pendekatan itu maka Bung Karno sejak awal menyatakan bahwa Indonesia adalah bangsa yang integralistik. Dia melihat ada 3 komponen dasar bangsa kita, yakni masyarakat Islam, masyarakat adat dan masyarakat progresif revolusiner. Ketiga ini dibahas Bung Karno, sebelum masa  pengasingan di Ende itu, yakni dalam tulisannya “Islamisme, Nasionalisme dan Marxisme”.

Mungkin berbeda dengan Supomo, yang benar-benar intelektual, dalam meyakini masyarakat integralistik, Bung Karno bisa jadi lebih pada “oedipus effect”, yang dia maksud rekayasa sosial untuk menyatukan tiga komponen utama bangsa tersebut.

Pemikir pejuang seperti Natsir maupun Tan Malaka, sebagai ahli ilmu sosial dan logika, misalnya, menawarkan suatu masyarakat paripurna. Natsir menawarkan ummah, sedangkan Tan Malaka  menawarkan kaum proletar Murba.

Hanya Soekarno yang  menawarkan ketiga kelompok masyarakat, kelompok-kelompok Islam (dan agama), nasionalis dan Marxist. Tiga kelompok terus bersama mengklaim eksistensi bangsa Indonesia.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Bangsa ini ketika dihadapkan pada kolonialisme, Bung Karno mencari spirit patriotisme dari ketiga elemen itu. Dalam Islam, Bung Karno mendorong munculnya modernisme agama (bukan Islam Sontoloyo), dari Nasionalisme didorong munculnya spirit cinta tanah air, dan dari Marxisme didorong munculnya gerakan kaum tertindas.

Bagaimana Rizieq menemukan Pancasila?

Rizieq bukanlah seperti Soekarno dalam mendekati masalah tadi. Sebagai cendikiawan, Rizieq memulai penggalian Pancasila dari konsepsi, lalu mencarinya di dunia nyata, belantara kemiskinan Jakarta, kemudian kembali merumuskan di Universitas. Metode ini sering dikenal aksi-refleksi-aksi atau refleksi-aksi-refleksi.

Penjelajahan Rizieq pada Pancasila membuat Rizieq menawarkan konsepsi masyarakat Islam sebagai superior pada skala bangsa, dengan meneguhkan sila Ketuhanan sebagai sentral atau utama. Soekarno menempatkan sila ini sila terkahir. Kedua Rizieq membangun platform kebersamaan nasional pada isu kebangkitan kaum miskin.

Dari sisi kebangkitan kaum miskin, Rizieq berbeda dengan Marxisme, yang melakukan pembelahan sempurna kaum miskin versus kaum kapitalis. Kebangkitan kaum miskin dalam pandangan Rizieq, merujuk pada Islam, dapat menerima dukungan dari kaum kapitalis yang tercerahkan atau mau berbagi kepada kaum dhuafa itu.

Soekarno versus Rizieq

Orang-orang besar adalah orang-orang yang muncul dari penjara ke penjara maupun dari pengasingan (exile) ke pengasingan. Soekarno dan Habib Rizieq adalah dua sosok bangsa yang mengalami penderitaan panjang dalam hidupnya, dalam konteks penjara dan pengasingan. (Tentu bukan koruptor)

Dari sisi ini kita akan melihat Soekarno dan Habib Rizieq mewakili dua sosok tokoh bangsa yang sejajar.

Ajaran Bung Karno yang utama adalah kebangsaan. Ajaran Rizieq yang utama adalah ketuhanan. Namun, keduanya kemudian masuk pada agenda yang sama, yakni pembebasan. Tema pembebasan Bung Karno adalah melawan penindasan kaum kolonial, sedang tema pembebasan Rizieq adalah pembebasan dari cengkraman oligarki kapital. Sesungguhnya ini sama meski tidak sebangun. Lawan dalam definisi Bung Karno adalah penjajah dan penjajahan. Sedang Rizieq, lawan adalah oligarki dan rezim anteknya.

Ketika Bung Karno memilih bersekutu dengan Jepang, pada tahun 1942-45, tujuan Bung Karno adalah melawan negara kolonial Belanda. Jadi, bukan sebuah pengkhianatan Bung Karno atas cita-citanya. Rizieq ketika membangun persekutuan dengan keluarga Cendana, dia tidak melihatnya sebagai pengkhianat cita-cita pula.

Jadi, meskipun Bung Karno dan Rizieq berbeda dalam penekanan jawaban atas persoalan di awal, namun spirit berikutnya tentang pembebasan, sama dan sejalan.

Membandingkan Soekarno versus Habib Rizieq adalah penting untuk melihat secara tulus kedua sosok pahlawan bangsa kita dalam melakukan pembebasan kaumnya. Pendekatan yang dilakukan Bung Karno mengalami pelecehan ataupun penolakan dari berbagai tokoh waktu itu, seperti Syahrir, Tan Malaka, Natsir dll. Misalnya, Tan Malaka suka melecehkan Bung Karno sebagai kolaborator.

Rizieq saat ini juga banyak mendapat kecaman, karena dianggap akan menihilkan agenda kebangsaan dengan superioritas Islam. Ketika Rizieq dan Rachmawati Sukarnoputri berjumpa pertama sekali, sebelum aksi 212 pada tahun 2016, keduanya berusaha mencari jalan tengah antara Sukarnoisme dan Rizieqisme tersebut.

Jalan bangsa ini masih panjang untuk membangun berdasarkan ajaran pembebasan ala Bung Karno dan ala Rizieq. Kaum tertindas menunggu perubahan sosial secepatnya untuk adanya kebahagian bersama.

Kita harus mempercepatnya dengan mendorong adanya sintesa Soekarnoisme dan Rizieqisme dalam perjuangan bangsa. Bukan membandingkan siapa yang lebih hebat. Dan tidak perlu melihat lebih jauh lagi pada judul di atas. Karena mereka dua tokoh yang besar, dalam jamannya yang berbeda.*

//ViS//