Ribuan Warga Sumenep Tarawih Lebih Awal, Pakar Astronomi Soroti Efektivitas Sidang Isbat
Menggugat Efektivitas Sidang Isbat Melalui Perspektif Sains.

oleh -319 Dilihat
Ribuan umat Muslim di Sumenep mengikuti tradisi tarawih lebih awal selaras dengan perhitungan lokal. Profesor Tono Saksono.
Profesor Tono Saksono di Podcast Madilog yang bikin heboh warganet. Ist,.
Terbit: 17 Februari 2026 | 03:01 WIB

SUMENEP, MADURA EXPOSE – Geliat menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H mulai terasa kental di Kabupaten Sumenep, Madura. Meski pemerintah baru akan menggelar Sidang Isbat sore ini, ribuan warga terpantau sudah melaksanakan ibadah shalat tarawih lebih awal pada Senin malam (16/2/2026).

Fenomena “ikut Karay” kembali terlihat di wilayah Kecamatan Ganding dan sekitarnya. Tanpa adanya komando resmi, warga secara kompak memenuhi masjid dan mushalla setempat setelah waktu Isya’. Tradisi lokal ini memang telah lama menjadi pegangan spiritual masyarakat dalam memulai rangkaian ibadah Ramadhan.

“Sudah tradisi mas, kalau warga sudah yakin mulai puasa hari ini, ya malamnya semua langsung shalat tarawih,” ujar Yunda Hozaimah, salah seorang warga di Kecamatan Ganding. Namun, pemandangan berbeda terlihat di beberapa desa tetangga yang memilih tetap menunggu ketetapan resmi dari pemerintah.

Kritik Ilmiah Profesor Tono Saksono

Langkah masyarakat yang memulai ibadah lebih awal seolah menemukan resonansi ilmiah dalam diskusi hangat di kanal YouTube Forum Keadilan TV. Pakar fotogrametri, Profesor Tono Saksono, secara berani menyebut bahwa polemik perbedaan awal puasa seharusnya tidak perlu terjadi jika Indonesia sepenuhnya mengandalkan perhitungan ilmiah.

Melansir rujukan dari Herald ID, Prof. Tono menilai praktik pemantauan hilal secara masif yang melibatkan banyak titik setiap tahunnya perlu dievaluasi efektivitasnya. Ia berpendapat bahwa kemajuan sains saat ini sudah mampu memastikan posisi bulan secara presisi.

“Kalau gerhana saja bisa dihitung sampai menit dan detik secara presisi ratusan tahun ke depan, penentuan awal Ramadan juga bisa melalui hisab astronomi. Tidak perlu pemantauan masif yang menyedot anggaran besar,” ungkap Prof. Tono.

Harapan Publik akan Efisiensi Anggaran

Opini sang Profesor memicu gelombang diskusi di jagat maya. Sebagian besar masyarakat mulai menyoroti pentingnya modernisasi birokrasi dan transparansi anggaran dalam penetapan hari besar keagamaan. Harapan publik agar pemerintah lebih mengedepankan efisiensi teknologi pun mengemuka, seiring dengan keinginan agar instansi terkait mulai mempertimbangkan rujukan sains sebagai standar utama yang lebih akurat.

Prosedur Resmi Sidang Isbat Kemenag

Di sisi lain, Kementerian Agama (Kemenag) RI tetap menjalankan prosedur Sidang Isbat yang menggabungkan metode Hisab dan Rukyat. Melansir portal resmi kemenag.go.id, Sidang Isbat tetap menjadi forum krusial untuk memberikan kepastian hukum bagi umat Muslim Indonesia melalui mekanisme paparan posisi hilal yang komprehensif.

Mekanisme ini merupakan bentuk kehati-hatian pemerintah dalam mengakomodasi berbagai mazhab dan tradisi yang ada di Indonesia, sekaligus menjadi wadah silaturahmi organisasi kemasyarakatan Islam di tingkat nasional.

Sinergi Digital 2026

Perbedaan awal Ramadhan 2026 membuktikan pentingnya literasi digital bagi masyarakat. Sejalan dengan semangat Digital Synergy 2026 antara IDWebhost dan PANDI, Madura Expose berkomitmen untuk terus menyajikan informasi yang mengedukasi agar masyarakat tetap kritis namun tetap menjaga kerukunan di tengah keberagaman tradisi.


Penulis Red./Editor: Ferry Arbania | Madura Expose

Layanan Pembaca: Bagi pembaca yang ingin menyampaikan informasi, keluhan, atau mengirimkan artikel opini, silakan kirimkan melalui email resmi kami di: maduraexposenews@gmail.com

"Dewan Redaksi" MADURA EXPOSE

Gambar Gravatar
www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum