Oleh: Syarif Hidayat Santoso
Di Sumenep, keberadaan etnis Tionghoa hadir sejak lama. Kontribusi mereka menyejarah sejak dulu. Keraton dan Masjid Jami’ Sumenep merupakan pembuktian eksistensi Tionghoa dalam pembangunan kota Sumenep. Tempat peribadatan Klenteng juga ada di Sumenep. Klenteng terletak di desa Pabian, berdampingan dengan Masjid dan Gereja Katolik. Di Sumeneppun terdapat sebuah desa bernama Dungkek yang merupakan kepanjangan dari Se Maddhung Singkek (penebang kayunya adalah Tionghoa).

Di Madura, China memiliki tempat tersendiri. Dalam peribahasa Madura (Parebhasan), China disebut secara spesial. Peribahasa tersebut berbunyi Mon adhagang ban Cena, Mon Ngaji ka Arab (kalau berdagang dengan China, kalau ngaji kepada orang Arab). China memiliki spesialisasi bisnis yang diakui oleh orang Madura. Dalam urusan bisnis, etnis Tionghoa lebih dihargai daripada etnis Arab yang sering dituding penyuka riba dan pelit.

Di Sumenep, harmoni Tionghoa dengan komunitas Madura terjalin tanpa hambatan selama berabad-abad. Ketika kerusuhan antara Syarikat Islam dengan etnis Tionghoa terjadi di pulau Jawa, Tionghoa di Sumenep aman-aman saja, meski Sumenep saat itu merupakan basis Syarikat Islam (Kuntowijoyo:1988). Ketika meletus G 30 S PKI, etnis Tionghoa Sumenep dilindungi oleh kaum nahdliyyin meski terjadi ketegangan antara warga NU dengan segelintir Tionghoa pengikut Baperki.

Salah satu jejak Tionghoa di Sumenep adalah Pecinan di kota Sumenep. Keberadaannya kini terasa nisbi. Pecinan sulit terlacak karena terjepit toko-toko yang menjamur di kota Sumenep. Generasi muda sulit mengetahui bahwa di Sumenep ada kampung China. Beda dengan Kampung Arab yang hidup dengan aneka kebudayaannya, Pecinan tak terasa sekali nuansa kulturnya.

Pecinan hanyalah kampung nostalgia yang keberadaannya kini hanya berbentuk kumpulan toko. Kebudayaan Tionghoa hampir tak tampak. Namun, sejak tahun lalu, kebudayaan Tionghoa mulai ditampilkan. Atraksi Barongsai ditampilkan pada perayaan Hari Jadi Sumenep tahun 2011 lalu di depan Masjid Jami’ Sumenep. Untuk pertama kalinya, paguyuban Tionghoa Sumenep menunjukkan jatidiri partikularnya. Masyarakat Sumenep mendadak diingatkan bahwa diantara mereka ada komunitas Tionghoa yang memiliki peran kesejarahan penting. Ditampilkannya Barongsai di depan Masjid Jami, sontak mengingatkan masyarakat Sumenep kepada Lauw Piango, arsitek Tionghoa pembangun masjid Jami’ Sumenep.

Karenanya kebudayaan minoritas Tionghoa harus direvitalisasi agar potensi Tionghoa tak terlihat sebagai elemen the other (lain). Hadirnya kultur ini akan menambah keragaman Sumenep yang terdiri dari berbagai etnis. Sumenep merupakan wilayah yang kaya dengan sentuhan beragam etnis. Di Sumenep daratan hidup etnis non Madura seperti Jawa, Arab, Pakistan, keturunan Melayu di desa Marengan dan keturunan Bali di desa Pinggir Papas. Sedang di Sumenep Kepulauan seperti Kangean, Sapeken dan Masalembu hidup etnis Banjar, Mandar, Bugis dan Bajo. Inilah Bhinneka Tunggal Ika ala Sumenep.

Psikologi keragaman harus dibangun sejak dini. Revitalisasi etnis Tionghoa ini akan memberikan satu sensivitas emosi bahwa di Sumenep, etnis Tionghoa bukanlah pedagang semata. Revitalisasi kultur Tionghoa akan menjauhkan pola pikir kesenjangan ekonomi antara Madura dan Tionghoa. Jika kultur ini menyatu dalam kehidupan masyarakat Sumenep seperti kultur Arab, maka bukan saja sebuah sikap multikulturalisme yang tercapai namun sebuah transformasi nilai-nilai Tionghoa sebagai produk komplementer. Nilai-nilai Madura akan semakin maju jika nilai sino-konfusionisme terintegrasi dengan baik kedalam kultur Madura.

*Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial