MaduraExpose.com — Ribuan umat Islam membanjiri Silang Monas, Jakarta, dalam Reuni Akbar 212 yang digelar sejak petang hingga larut malam pada Selasa (2/12/2025). Menginjak tahun ke-9 sejak Aksi Bela Islam III yang legendaris, acara ini bukan sekadar reuni, tetapi panggung spiritual dan seruan moral yang mengusung tema fundamental: ‘Revolusi Akhlak untuk Selamatkan NKRI dari Penjahat dan Merdekakan Palestina dari Penjajah’.
Atmosfer Monas terasa khusyuk dan menghangatkan hati, diselimuti lautan massa berbaju putih. Alih-alih dimulai dini hari, Reuni 212 kali ini fokus pada penguatan spiritual di malam hari, diawali dengan azan yang berkumandang merdu sebanyak dua kali dari panggung utama, diikuti Salat Magrib dan Isya berjemaah.
🤲 Zikir, Khotmil Quran, dan Tangisan Munajat
Menjelang acara puncak pukul 21.00 WIB, suasana semakin syahdu. Massa secara kolektif melantunkan selawat dan takbir, memecah keheningan malam Jakarta. Puncak spiritual terjadi saat peserta bersama-sama menggelar Khotmil Quran, membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir, diikuti sesi Salat Gaib, doa, dan Munajat akbar.
Doa dan munajat yang dipimpin ulama tidak hanya ditujukan untuk keselamatan bangsa, tetapi juga diarahkan kepada dua isu mendesak yang menyentuh hati umat:
Solidaritas Palestina: Seruan lantang untuk pembebasan Palestina dari penjajahan disuarakan, baik dari panggung maupun dalam orasi di depan Kedubes AS.
Korban Bencana Sumatra: Doa khusyuk dipanjatkan bagi para korban jiwa dan warga terdampak parah akibat banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
🤝 Wamenag: Jaga Ukhuwah, Lawan Islamofobia Global
Kehadiran sejumlah tokoh nasional dan pejabat pemerintahan, seperti Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i, memberikan sorotan politik pada acara ini.
Dalam sambutannya, Wamenag Romo Muhammad Syafi’i menyampaikan pesan yang menyentuh nurani umat, menekankan pentingnya Ukhuwah Islamiyah dan persatuan di tengah upaya perpecahan.
“Tidak boleh ada kebencian kepada agama, tidak boleh melabelkan kekerasan terhadap agama tertentu,” tegas Syafi’i.
Wamenag juga mengaitkan semangat ukhuwah ini dengan upaya global melawan diskriminasi, mengingatkan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2022 telah menetapkan 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Menangkal Islamophobia. Pesan ini menegaskan posisi umat Islam Indonesia yang bersatu untuk reformasi moral internal sekaligus memerangi kebencian agama di kancah dunia.
📢 Usulan Hari Libur Ukhuwah Indonesia 2 Desember
Momen emosional dan politis terjadi ketika perwakilan panitia, Muhammad bin Husein Alatas, menyampaikan usulan yang disambut gemuruh takbir peserta. Ia mengapresiasi keberlanjutan Reuni 212 yang menjadi spirit tahunan dan secara langsung mengusulkan kepada pejabat yang hadir:
“Mumpung ada Wamenag, mumpung ada Gubernur, saya usul, bagaimana kalau 212 acara momentum besar ini 2 Desember kita usulkan jadi Hari Ukhuwah Indonesia?” katanya.
Usulan ini bertujuan agar 2 Desember ditetapkan menjadi Hari Libur Nasional, memungkinkan seluruh umat Islam di Indonesia untuk terus berkumpul, bersatu, dan merayakan persaudaraan Islam tanpa terhalang hari kerja.
Di tengah ajang ukhuwah ini, panitia juga tidak lupa menyerukan galang dana dan kepedulian bagi korban bencana di Sumatra, menegaskan bahwa semangat 212 adalah semangat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) dan solidartias kemanusiaan.


















