Rekor Muri Bebani Masyarakat, Dewan Sebut Pencitraan

0
567

unnamedMaduraExpose.com- Festival makan campor yang diseleggarakan Pemerintah Sumenep, Minggu (09/11) tidak sesuai dengan isu yang berkembang di masyarakat, pasalnya masyarakat yang ingin makan campor harus beli tiket sebesar Rp 5000.

“Ini kan tidak sesuai dengan isu yang yang berkembang di masyarakat katanya makan campor gratis tetapi kenyataannya masyarakat masih harus membeli kupon,”kata Eko Wahyudi, salah satu warga Sumenep, (09/11)lalu.

Eko menyayangkan sikap pemerintah yang harus membebani masyarakat membeli tiket jalan-jalan sehat (JJS) sebesar Rp 5000. Hal tersebut, tidak sesuai dengan fakta yang berkembang di masyarakat. Padahal fakta yang berkembang, makan campor gratis tujuannya untuk memecahkan rekor muri, namun kenyataannya masyarakat yang ingin ikut mensukseskan acara tersebut harus bayar.

“Kalau menurut saya JJS ini kan modus untuk mencari keuntungan dalam acara festival makan campor, dengan tujuan pecahkan rekor muri,”tukasnya. Dia kecewa acara tersebut, yang isunya gratis ternyata membebani masyarakat dengan pembelian tiket.

Selain itu, menurut Eko sebagai bagian dari rangkaian hari jadi Sumenep, mestinya yang diangkat bukan makan campor, tetapi yang berkaitan dengan tema Hari Jadi Sumenep.

“Kenapa tidak Gili Iyang menjadi prioritas dari acara ini, misalkan meningkatkan pembangunan infrastruktur di Giliyang agar lebih bermanfaat kepada masyarakat setempat,”pungkasnya.

Sementara Anggota DPRD Kabupaten Sumenep Indra Wahyudi mengatakan festival makan campor hanya pencintraan semata. Padahal momen Hari Jadi Sumenep lebih diprioritaskan kepada kemaslahatan masyarakat Sumenep, bukan sekedar kegiatan seremonial dan hura-hura seperti festival makan campor.

Menurutnya kegiatan seremonial bisa di laksanakan asalkan tidak menggunakan anggaran besar. Momen festival dinilai tidak pas karena akan memasuki pemilihan kepala daerah. Karena itu menurut Indra, kegiatan hari jadi tak lain hanya sekedar pencitraan.

(Jun/Fer)