MADURA EXPOSE–Sejak awal dilaksanakan, pengerjaan proyek lanjutan pembangunan fasilitas pelabuhan Telaga Biru di Bangkalan, Madura, Jawa Timur diprediksi rentan berurusan dengan aparat penegak hukum karena disinyalir penuh penyimpangan dan rekaya.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua LSM Garuda Nusantara, Nurul Hidayatullah saat berbincang dengan Pojok Sumenep Plus di salah satu lesehan di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Kamis 21 April 2016.

“Kejanggalan yang kami temukan adalah besaran dana proyek dan waktu pengerjaannya yang terkesan direkayasa. Kok bisa proyeknya sudah selesai digarap sejak bulan Desember 2015 lalu. ”, ujarnya.

Pria yang lebih karib dengan panggilan Irul ini menambahkan, pengerjaan proyek lanjutan Telaga Biru patut disoal dengan melihat nomor kontrak yang ada. Berdasarkan data yang dihimpun, pemenang lelang PT. Brantas Abipraya (persero) senilai Rp. 40 miliar lebih dengan nomor kontrak PL.106/2/IX/upp.tb-2015 memiliki jangka waktu pelaksanaan 105 hari kalender. Adapun waktu pelaksanaan 08 September s/d 21 Desember 2015.

“Kami melihat dananya terlalu besar kalau hanya untuk sekedar membangun break water di Telaga Biru itu. Pengerjaannya juga terlihat asal-asalan dan tidak sesuai dengan spek”, imbuhnya menandaskan.

Aktivis asal Kabupaten Sumenep ini mempertanyakan besaran dana yang dinilai sangat tidak masuk akal. Pihaknya juga menduga pelaksanaannya tidak melalui perencanaan yang matang alias asal-asalan.

“Kami melihat pengerjaan proyek lanjutan Telaga Biru oleh PT. Brantas sebagai pemenang lelang tidak sesuai kontrak yang sebenarnya”,imbunya.

Ditambahkan Irul, indikasi penyelewengan itu terlihat jelas pada waktu pelaksanaan terjadi beberapa kali perubahan design yang seharusnya hal itu tidak boleh terjadi.

“Masak design digonta ganti terus. Harusnya proyek dikerjakan sesuai perencanaan semula. Jadi kasarnya, designya kok malah mengikuti pelaksanaan”, sesalnya panjang lebar.

HotNews:  Masjid: Tempat Ibadah yang Minim Resiko Terjangkit Corona

Tak hanya masalah design perencanaan, pihaknya juga menyoroti spesifikasi material yang terpasang yang terindikasi tidak sesuai dengan persyaratan teknis. Itu terlihat dari design break water .

“Harusnya design break water itu menggunakan batu gunung yang keras, bukan malah karena lebih murah terus menggunakan batu kapur.

Pengerjaan proyek lanjutan Telaga Biru ini diprediksi kuat akan berbuntu keranah hukum setelah hasil audit BPK dan PT Brantas Abipraya saling bertolak belakang.

“Aneh khan kalau kemudian hasil audit BPK dan PT Brantas Abipraya malah tidak sama”, pungkasnya.

Sementara pihak – pihak terkait yang berkompetern dalam persoalan proyek Telaga Biru seperti Dirjen Perhubungan Laut maupun PT Brantas Abipraya belum berhasil dimintai komentara. [ferry/**]