Paradoks Keraton: Pesta Pora Festival di Tengah “Lapar Tersembunyi” 1.789 Balita Sumenep

Terbit: 10 Maret 2026 | 11:04 WIB

SUMENEP – Gema tawa dan aroma hidangan buka puasa di Pendopo Agung Keraton Sumenep, Senin (09/03), seolah menjadi oase optimisme. Di sana, Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo tengah membakar semangat para punggawa Sumenep Calendar of Event (SCE) 2026. Narasi yang dibangun seragam: pariwisata adalah motor, festival adalah bahan bakar, dan ekonomi kreatif adalah tujuannya. Namun, tepat di luar tembok keraton yang kokoh, sebuah tragedi sunyi sedang mengintai masa depan Bumi Sumenep: 1.789 balita didiagnosis mengalami stunting.

Etalase Pariwisata vs Realitas Gizi

Secara Administrasi Publik, kebijakan SCE 2026 adalah upaya branding daerah yang sah. Namun, meminjam teori Prioritas Anggaran (Budgetary Priority), muncul pertanyaan fundamental: sejauh mana efektivitas festival dalam mendongkrak kesejahteraan jika fundamental sumber daya manusia (SDM) kita sedang keropos?

Data Dinas Kesehatan P2KB Sumenep per Januari 2026 mencatat prevalensi stunting mencapai 3,2 persen. Angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah 1.789 nyawa yang terancam gagal tumbuh secara kognitif maupun fisik. Ironinya, wilayah dengan kekayaan laut melimpah seperti Sapeken, Masalembu, dan Kangayan justru menjadi penyumbang kasus tertinggi. Ini adalah Paradoks Kelimpahan—di mana protein berenang di depan mata, namun tak sampai ke piring makan balita.

Kritik Virzannida: Digital Distraction dan Defisit Pendampingan

Anggota Komisi IV DPRD Sumenep, Virzannida Busyro, melontarkan kritik yang segar namun menampar. Putri mantan Bupati KH A. Busyro Karim ini mengungkap fakta sosiologis yang getir: stunting di Sumenep bukan melulu soal kemiskinan, melainkan “Kejahatan Pengabaian”.

Dua dari tiga kasus stunting dipicu oleh minimnya pendampingan orang tua. Fenomena orang tua yang lebih asyik “berselancar” di media sosial daripada menyuapi anak dengan gizi seimbang adalah potret dekadensi pola asuh di era digital. Belum lagi pola migrasi warga kepulauan yang menitipkan anak pada nenek (pengasuhan pengganti) demi merantau, yang mengakibatkan rantai asupan nutrisi terputus.

Politik Anggaran: Antara Festival dan Intervensi Gizi

Secara politis, Virzannida menyayangkan pemotongan anggaran pengentasan stunting dari pusat yang tak lagi menjadi program prioritas nasional. Di sinilah nyali Pemerintah Kabupaten Sumenep diuji. Jika Bupati Fauzi meminta penyelenggara SCE meningkatkan kualitas event, maka sudah sepatutnya kualitas intervensi gizi juga dinaikkan ke level “festival”.

Jangan sampai kemasan SCE 2026 begitu megah secara visual, namun keropos secara substansi sosial. Investasi pada festival bersifat temporary (sementara), namun investasi pada gizi balita adalah long-term investment untuk ketahanan daerah.

Sumenep tidak butuh anak-anak yang hanya menjadi penonton festival di masa depan; Sumenep butuh generasi yang otaknya cukup gizi untuk menjadi aktor pembangunan. Tanpa sinkronisasi kebijakan yang radikal antara pariwisata dan kesehatan, SCE 2026 dikhawatirkan hanya akan menjadi kosmetik di atas wajah daerah yang sedang pucat karena malnutrisi.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

RAHASIA TANEROS

Terbit: 29 Maret 2026 | 18:17 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Di balik deburan ombak Pesisir Beluk Ares, Kecamatan Ambunten, tersimpan sebuah rahasia geografis yang jarang disadari publik. Pantai Taneros (atau…

Memoles Tuah Janur di Pantai Lombang

Terbit: 27 Maret 2026 | 21:28 WIB SUMENEP – Pemerintah Kabupaten Sumenep menegaskan komitmennya dalam mentransformasi tradisi lokal menjadi instrumen penggerak ekonomi daerah. Melalui penyelenggaraan Festival Ketupat 2026 di Pantai…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *