Perpusda dan Rendahnya Minat Baca di Sumenep

0
891
Ilustrasi dari facebook Perpusda Sumenep/Maduraexpose.com.

MADURAEXPOSE.COM—Seorang anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep menulis di media komunikasinya bertajuk “Mengantarkan Perpustakaan di Ruang Kelas.” Konsep baru peningkatan budaya literasi untuk GLS. Tajuk tulisan tersebut saya ubah menjadi “Menyediakan Perpustakaan di Ruang Kelas.”

Alasannya agar menu bacaan yang hebat tersebut segera dapat dilahap oleh peserta didik. Benar, peserta didik adalah raja. Sekolah dan gurunya dan pemangku kepentingan sekolah memang harus dapat memberikan layanan pendidikan yang diharapkan. Itulah sebabnya fungsi Dewan Pendidikan adalah membantu upaya peningkatan mutu pelayanan pendidikan. Pas bukan?

MASALAH. Masalah yang dihadapi oleh proses peningkatan mutu pelayanan pendidikan di sekolah adalah rendahnya minat baca peserta didik. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, dalam pertemuan KOORDINASI dan SINERGI (berasal dari kata sincronization atau penyatuan energy atau kekuatan) antara Kemdikbud dengan perguruan tinggi di tanah air dan tiga kementerian yang mendukung GLS (gerakan literasi sekolah).

Tiga kementerian itu adalah (1) Kementerian Agama, (2) Kementerian Dalam Negeri, dan (3) Kementerian Perhubungan. Ketiga kementerian tersebut diharapkan akan bersama-sama mendongkrak multilirasi di Indonesia. Bukan hanya literasi dalam aspek keaksaraan, tetapi sebagai MULTI LITERASI, artinya termasuk melek calistung, sains, teknologi informasi, komunikasi, kultural, bahkan juga literasi dalam keselamatan jalan.[1]

Kembali kepada masalah rendahnya minat baca itulah yang telah mendorong kelahiran GLS tersebut. Malah Taufik Ismail, sastrawan kawakan telah lama mengingatkan tentang tragedi NOL BUKU di negeri ini. Masalah rendahnya minat baca tersebut, dan rendahnya mutu pendidikan di tanah air tersebut, menurut Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Hamid Muhamad, ternyata malah telah menjadikan satu kenikmatan tersendiri, karena hanya sering menjadi bahan pembahasan dalam diskusi atau kegiatan koordinasi dan singkronisasi seperti ini.

Untuk tidak menjadikan satu kenikmatan tersendiri, sebenarnya Indonesia tidak kekurangan konsep, termasuk konsep untuk meningkatkan budaya sekolah. Malahan, banyak konsep yang sekarang ini sedang dikaji kembali untuk ditetapkan kembali menjadi kebijakan pendidikan yang lebih mantap.

Misalnya, konsep yang baru saja disampaikan oleh Mendikbud Muhadjir Effendie baru-baru ini, misalnya FULL DAY SCHOOL, konsep PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER atau PPK (Penguatan Pendidikan Karakter), bahkan konsep LINKS AND MATCH yang justru telah diluncurkan pada tahun 1995 oleh Wardiman Djojonegoro, termasuk konsep SEKOLAH UNGGULAN, yang telah “dibunuh” oleh Mahkamah Konstitusi, karena alasan diskriminasi. Padahal diskriminasi memang harus dihilangkan, tapi tanpa harus membunuh konsep sekolah unggulannya.

Buktinya, Malaysia tetap dapat menghidipkan SEKOLAH BESTARI atau SMART SCHOOL. Indonesia sebenarnya tidak kekurangan konsep, yang kurang adalah kolaborasi dalam penerapannya secara konsisten dan konsekuen. Saya jadi ingat kata mutiara “we are not looking for a superman, buat we are looking for a super team.” Kita tidak perlu superman, tapi kita perlu supertim. [masdik]