Perangi Konten Negatif, Ferry Arbania: Santri Harus Kuasai Dunia Media

0
166

Sumenep (Maduraexpose.com) – Salah satu Santriwati (santri perempuan) di Pondok Pesantren Raudlatul Iman ,Gadu Barat, Kecamatan Ganding, Sumenep tampak antusias menyimak materi yang disampaikan Ferry Arbania, Jurnalis Senior Jawa Timur yang kebetulan dipercaya menjadi Pemateri

Oleh panitia dalam acara Deklarasi Media Center Raudlatul Iman sekaligus dalam acara Menanam 1000 Pohon Se-Dunia dan Diskusi Publik bertajuk “Peran Media Dalam Konstelasi Peradaban Bangsa,” di Aula An-Najmah Sentral Auditorium, Ponpes Raudlatul Iman Gadu Barat, Kecamatan Ganding, Sumenep, Madura, Jawa Timur, Ahad 28 November 2021 kemarin.

Deklarasi Media Center Raudlatul Iman

Salah satu santriwati yang hadir dalam forum diskusi itu menyampaikan pertanyaan kritis kepada pemateri terkait dengan maraknya berita hoax yang bertebaran di internet , terutama media sosial.

Peserta Dialog Publik itu ternyata Mahasiwi STIDAR Sumenep yang diketahui bernama Ainiyatul Maghfirah dan baru Wisuda.

Maghfiroh menanyakan kepada Pemateri yang punya nama asli Fathol Bari itu tentang cara menangkal berita hoax bagi kalangan santri.

“Intinya kami dari kalangan Santri ingin tau dari Pemateri bagaimana menangkal berita hoax,” ujarnya.

Pertanyaan tak kalah sengitnya juga datang dari peserta lainnya, yakni Betul, Muhammad Unis.

Dia menilai, dewasa ini banyak sekali konten negatif yang bertebaran di internet,bahkan di media tertentu.

“Lantas bagaimana cara memerangi konten negatif di media,” tanya Muhammad Unis dalam forum tersebut.

Sementara Fathol Bari yang bertindak sebagai pemateri langsung memberikan tanggapan yang cukup rasional dan mudah dicerna oleh peserta diskusi.

” Untuk mengecek sebuah berita apakah hoax atau bukan,tinggal cek aja di website khusus. Cara lain, jangan langsung ngeshare berita apapun jika sumbernya meragukan”,papar Fathol Bari.

Selanjutnya dia menanggapi masalah konten negatif yang banyak ditemukan di media.

“Ada banyak cara memerangi konten negatif di internet. Salah satunya dengan belajar IT secara khusus. Khusus santri Raudlatul Iman yang sudah kuliah atau yang sarjana lebih baik terjun juga ke dunia wartawan atau Jurnalistik. Jika dunia media dikuasai dari kalangan pesantren, maka peluang membendung konten negatif semakin kuat ” tutup mantan Wartawan Memorandum Surabaya ini. (Tim/Red)