Pengamat: Dulu Kompas Digugat, Sekarang Metro TV Harus Digugat

Terbit: 9 Januari 2016 | 18:13 WIB

MADURA EXPOSE—Pengamat media, Artawijaya menilai tuduhan stasiun televisi Metro TV kepada Wahdah Islamiyah adalah fitnah yang keji. Artawijaya menilai selama ini Wahdah Islamiyah yang dipimpin Ustadz Zaitun Rasmin telah banyak berkontribusi untuk negara.

“Apa yang dilakukan oleh Metro TV terhadap Wahdah Islamiyah dan Zaitu Rasmin adalah fitnah keji. Karena kita tahu Wahdah Islamiyah itu kontribusinya terhadap umat Islam, dan terhadap bangsa ini sangat besar. Wahdah Islamiyah banyak bekerjasama dengan pemerintah,” ungkap Artawijaya saat ditemui Voa-Islam di Jakarta Timur, Jumat (8/1/2016) pagi.

Artawijaya juga menilai selama ini Metro TV dalam pemberitaannya kerap memojokan Islam. Kasus berita asal tuduh ini juga bukan pertama kali dilakukan oleh Metro TV.

“Metro TV pernah memfitnah Rohis, kemudian juga dalam kasus-kasus terorisme yang menyangkut umat Islam, kasus tentang Perda Anti Maksiat, pemberitaan-pemberitaan mereka selalu menyudutkan umat Islam. Metro TV pernahkah dia memberikan hak jawab, diwawancarai orang yang dia tuduh teroris? Kalaupun ada porsinya sangat kecil. Terkadang diplintir juga,” papar Artawijaya yang juga mantan wartawan Majalah Sabili ini.

Lebih lanjut, Artawijaya berharap umat Islam untuk bersama-sama menuntut Metro TV, seperti halnya yang pernah dilakukan terhadap surat kabar Kompas pada tahun 1997.

“Kalau dulu ketika Kompas menulis pemberitaan yang negatif terhadap partai FIS (Aljazair), ratusan tokoh umat Islam menggugat Kompas. Kemudian Kompas meminta maaf. Nah ini juga yang harus dilakukan kepada Metro TV, selain mengadukan kepada Dewan Pers,”tegas Artawijaya.*

[Nizar/Syaf/voa-i]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *