Pengakuan Warga NU: Saya Bangga dengan FPI

Terbit: 22 Oktober 2016 | 05:38 WIB

MADURAEXPOSE.COM—Saya warga NU sejak sebelum lahir. Saya bangga dengan ke-NU-an saya. Saya juga santri. Saya bangga sebagai santri.

Tetapi diam-diam saya juga bangga dengan FPI. Saya bersyukur, umat Islam di Indonesia mempunyai FPI.

Barangkali hadits ini di antara dasar saya:

عَنْ دُرَّةَ بِنْتِ أَبِي لَهَبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَامَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خَيْرُ النَّاسِ أَقْرَؤُهُمْ وَأَتْقَاهُمْ وَآمَرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ، وَأَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ

Sahabat Durrah binti Abi Lahab radhiyallaahu ‘anha berkata: “Seorang laki-laki berdiri ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang di atas Mimbar, lalu berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling mengerti terhadap isi al-Qur’an, paling bertakwa, paling gigih dalam menyuruh kebaikan, paling gigih dalam mencegah kemunkaran dan paling semangat dalam bersilaturrahmi.” (HR Ahmad [27434], al-Thabarani dalam al-Kabir dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

Saya perhatikan, FPI adalah organisasi yang paling gigih dalam beramar ma’ruf dan nahi munkar.

Meskipun tidak sedikit organisasi dan umat Islam lainnya sering mencibir dan mengeritik mereka. Tetapi mereka kebanyakan tidak peduli dan pendiam terhadap kemunkaran.
logo-tajuk-indonesia-webku
Sidogiri, 21 Oktober 2016

  • administrator

    www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

    Related Posts

    Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

    Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

    Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

    Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *