SUMENEP, MADURAEXPOSE.COM – Di tengah bayang-bayang fluktuasi harga bahan pokok menjelang Idulfitri 1447 H, pelataran timur Taman Potre Koneng, Kecamatan Kota Sumenep, mendadak berubah menjadi oase bagi “emak-emak”. Sejak fajar menyingsing, antrean warga sudah mengular, memburu komoditas pangan yang harganya dipangkas jauh di bawah rerata pasar.
Kolaborasi Pemerintah Kabupaten Sumenep bersama EPIK Mobile Jawa Timur ini bukan sekadar seremoni musiman. Secara Administrasi Publik, langkah ini merupakan intervensi pasar yang krusial untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah kurva permintaan yang melonjak tajam selama Ramadan.
Anatomi Operasi Pasar dan Stabilitas Fiskal Daerah
Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Sumenep, Dadang Dedy Iskandar, menjelaskan bahwa stok yang diterjunkan tidak main-main. Sebanyak 3 ton beras, 1 ton gula, hingga ratusan liter minyak goreng ludes dalam hitungan jam. “Intervensi ini bertujuan meredam potensi panic buying. Kami pastikan harga kebutuhan pokok di Sumenep masih dalam radar aman,” tegas Dadang.
Dilihat dari kacamata ekonomi makro daerah, kegiatan ini adalah bagian dari strategi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Selisih harga yang ditawarkan—seperti Minyakita di angka Rp15.000 per liter dan beras medium Rp11.000 per kilogram—menjadi bantalan sosial (social safety net) yang efektif bagi rumah tangga berpenghasilan rendah.
Efek Domino Kesejahteraan
Yuni, salah seorang warga, mengaku selisih harga seribu hingga dua ribu rupiah per kilogram sangat berarti bagi dapurnya. “Alhamdulillah, pengeluaran belanja bisa ditekan. Uangnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan lebaran lainnya,” ungkapnya dengan wajah lega.
Pemkab Sumenep bersama lintas dinas (Pertanian, UKM, dan Perindag) dikabarkan tengah menyusun skema “Gerakan Pangan Murah” lanjutan. Ini adalah sinyal positif bahwa birokrasi di ujung timur Madura ini cukup responsif terhadap gejolak pasar global yang kerap menghantam ekonomi lokal.
Red./Editor: Ferry Arbania | Madura Expose








