maduraexpose.com

 


Radar Pemkab

Panggilan dari Timur: Dulu Disambut Meriah, Kini Bupati Fauzi Ditagih Janji Kepedulian di Tengah Gejolak Migas Sapeken

418
×

Panggilan dari Timur: Dulu Disambut Meriah, Kini Bupati Fauzi Ditagih Janji Kepedulian di Tengah Gejolak Migas Sapeken

Sebarkan artikel ini

Editor: Ferry Arbania

Ilustrasi: Warga Desa Sapeken Kecamatan (Pulau) Sapeken antusias menyambut kedatangan Bupati Sumenep Ra Achmad Fauzi Wongsojudo, didamping Wabup Dewi Khalifah dan rombongan safari kepulauan pada Jumat 03 Juni 2022. [dok. Istimewa]

SUMENEP – Pulau Sapeken, gugusan kepulauan terpencil di timur Sumenep, kini mengirimkan panggilan mendesak kepada pemimpinnya, Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo.

 

Panggilan ini datang dari warga yang menolak keras aktivitas eksplorasi migas oleh PT MGA Utama Energi, sebuah gejolak yang menguji kembali komitmen kepedulian yang pernah diikrarkan sang Bupati.

 

 

Jauh sebelum protes memuncak, Bupati Fauzi dan Wakil Bupati Dewi Khalifah pernah disambut bak pahlawan di sana. Namun, setelah isu migas mencuat, sosok Bupati nyaris tak terdengar di media untuk membela keluhan masyarakatnya. Keheningan ini menimbulkan pertanyaan: Ke mana perginya kepedulian yang dulu disematkan di dermaga Sapeken?

 

 

Kilasan Balik Sambutan Hangat di Sapeken (2022)

 

Pada Jumat pagi yang cerah, 03 Juni 2022, Kecamatan Sapeken gemuruh menyambut kedatangan Bupati Ra Achmad Fauzi dan rombongan safari kepulauan. Mereka disambut dengan drumband meriah, melambangkan harapan besar akan perubahan.

 

 

Saat itu, Camat Sapeken, Aminullah, kala itu menyampaikan rasa terima kasih mendalam. “Bupati bersama rombongan yang hadir di Kecamatan Sapeken menunjukkan kepeduliannya untuk masyarakat,” ujar Camat, berharap kehadiran itu membawa perubahan pembangunan di segala sektor.

 

 

Bupati Fauzi pun membalasnya dengan janji, menyatakan bahwa safari kepulauan adalah upaya untuk “serap aspirasi” sebagai bahan penyusunan kebijakan pembangunan.

 

“Dengan tali silaturahmi terus dipelihara, sehingga lahir semangat kebersamaan dalam membangun Kabupaten Sumenep khususnya Kecamatan Sapeken,” ungkapnya saat itu.

 

Kunjungan tahun 2022 itu adalah simbol kedekatan. Namun, krisis saat ini adalah ujian nyata dari makna “kepedulian” dan “serap aspirasi” tersebut.

 

Keheningan di Tengah Badai Penolakan Migas

 

Kini, kepulauan itu dilanda kekhawatiran yang jauh lebih serius daripada sekadar isu pembangunan. Warga Desa Sepanjang, yang trauma oleh bencana masa lalu, menolak aktivitas eksplorasi migas PT MGA Utama Energi yang dituding abai terhadap etika sosial.

 

Aktivis mahasiswa asal desa tersebut, Ahyatul Karim, mendesak Bupati Fauzi untuk turun tangan dan bertanggung jawab.

 

“Kami meminta kepada Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, harus bertanggung jawab agar perusahaan migas tersebut tidak merusak kehidupan masyarakat,” tegas Karim dikutip dari mediapribumi.id.

 

 

Desakan ini adalah gema dari janji tahun 2022. Ketika warga merasa terancam oleh potensi kerusakan lingkungan dan terabaikannya hak-hak mereka oleh korporasi migas, dukungan politik dari Bupati adalah perlindungan utama yang mereka harapkan.

 

 

Ketiadaan suara Bupati di media saat ini, di tengah gejolak penolakan yang memuncak, berpotensi mencerai-beraikan semangat kebersamaan yang pernah ditenun dua tahun lalu.

 

Masyarakat Sapeken dan Kangean tidak sekadar menuntut kejelasan dari perusahaan, tetapi menagih keberpihakan pemimpin daerah yang dulu mereka sambut dengan penuh suka cita.

 

Saat ini, mata publik Sumenep menanti: akankah janji kepedulian di Sapeken tahun 2022 terwujud dalam bentuk intervensi yang membela nasib rakyatnya, ataukah janji itu akan memudar seiring terbitnya izin eksplorasi? Bupati Fauzi ditunggu aksinya untuk kembali ke Sapeken, kali ini bukan untuk safari, melainkan untuk memimpin perjuangan masyarakatnya.

 

[dbs/gim/pri/fer]

--------EXPOSIANA----
GAYA SAMBUTAN ACHMAD FAUZI WONGSOJUDO

 


 


---Exposiana----