YOGYAKARTA, (MaduraExpose.com) – Sikap diam bukan lagi pilihan bagi Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Dalam pernyataan resmi yang menggetarkan meja diplomasi internasional (Nomor: 16/PER/I.0/B/2026), organisasi Islam tertua di Indonesia ini secara terbuka mengecam agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran. Muhammadiyah tidak hanya bicara soal politik, tapi soal hancurnya tatanan kemanusiaan global.
Secara Teori Hukum Internasional, serangan tersebut dinilai sebagai tindakan unilateral yang menabrak kedaulatan negara anggota PBB. PP Muhammadiyah memandang wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dalam serangan tersebut sebagai bukti nyata pengabaian atas Hak Asasi Manusia dan keputusan-keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Desakan Sanksi: Ujian bagi PBB dan OKI
Dalam dokumen yang ditandatangani oleh Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni, Muhammadiyah menyerukan tujuh poin krusial. Salah satu yang paling tajam adalah desakan agar PBB tidak lagi menjadi “macan kertas” dan segera menjatuhkan sanksi tegas kepada Amerika Serikat serta Israel.
“Kami mendorong agar PBB dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) segera mengambil langkah nyata untuk mengakhiri genosida di Palestina serta mencegah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah,” tulis pernyataan tersebut. Muhammadiyah menegaskan bahwa Iran maupun negara-negara Arab harus saling menahan diri agar tidak terjebak dalam skenario penghancuran peradaban lebih lanjut.
Solidaritas di Atas Kepentingan Geopolitik
Langkah Muhammadiyah ini merupakan bentuk Diplomasi Moral yang sangat tinggi. Di saat dunia terjepit dalam kepentingan geopolitik yang pragmatis, suara dari Yogyakarta ini mengingatkan bahwa perdamaian dunia hanya bisa dicapai melalui keadilan yang bermartabat, bukan melalui moncong senjata. Ini adalah seruan agar akal sehat kolektif kembali menjadi panglima dalam hubungan antarnegara.








