Oleh : Argopandoyo Tri Hanggono
MADURAEXPOSE.COM–Jakarta, Menanggapi berbagai aksi dan penyebaran opini yang sarat dengan anti kebersamaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, Universitas Kristen Indonesia menggelar Acara Seminar yang bertajuk Merawat Kemajemukan dalam Bingkai NKRI. Acara yang berlangsung pada tanggal 5 April 2017 yang lalu itu, menggunakan tempat di Graha William Suryajaya, Kampus UKI, Cawang Jakarta.

Ketua Panita Pelaksana, Pendeta Djoys Anneke Rantung, NTh, mengatakan bahwa seminar tersebut dihadiri oleh 400 peserta yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa yang datang dari berbagai perguruan tinggi di wilayah di Indonesia khususnya dari kampus di DKI Jakarta. Selain masyarakat kampus, seminar itu juga dihadiri oleh utusan berbagai gereja dan lembaga keagamaan lainnya.

Penyelenggara memandang Indonesia kali ini sedang menghadapi ancaman perpecahan karena konflik kepentingan dan konflik kelompok. Pancasila dan UUD’45 saat ini harus dipertahankan demi menjaga keeratan masyarakat sebagai bangsa. Maka acara ini pun mengharapkan lahirnya pemikiran yang dapat memperkokoh kebersamaan bangsa yang penuh dengan perbedaan, di Negara kesatuan Republik Indonesia.

Acara yang sempat mengalami keterlambatan itu akhirnya dibuka langsung oleh Rektor UKI, Dr. Maruarar Siahaan, S.H, M.H. Antusiasme mahasiswa yang menghadiri acara tersebut sangat tinggi, walaupun dua pembicara, yaitu Yeni Wahid dan Refly Harun tidak bisa hadir memenuhi agenda tersebut. Dua orang pembicara pada acara seminar itu adalah Direktur Setara Institut, Romo Benny Susetyo dan Mantan Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Pdt. Dr. Andreas A. Yeawangoe.

Dalam paparannya Romo Benny mendorong Indonesia untuk segera bebenah yang diawali dengan kajian-kajian tentang agama dan budaya. Demikian juga halnya Pdt. Yeawangoe yang mendorong penguatan civil society melalui lembaga-lembaga pendidikan, dari pendidikan tingkat dasar hingga perguruan tinggi.*)

[HOKI]

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM