Scroll untuk baca artikel
Hot Expose

Mengungkap Tabir Tragedi Syi’ah VS Sunni di Sampang

Avatar photo
56
×

Mengungkap Tabir Tragedi Syi’ah VS Sunni di Sampang

Sebarkan artikel ini

Menguak Pemicu Tragedi Syi’ah VS Sunni di Sampang, Madura.

Pada 26 Agustus 2012 yang lalu, di dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang terjadi huru-hara dengan tindak kekerasan, hingga terdapat 47 rumah yang dibakar massa, yang semuanya milik warga Syiah pimpinan Tajul Muluk (kiyai Tajul).

Sementara untuk korban jiwa akibat kerusuhan itu ada satu orang meninggal atas nama Hasyim alias Hammamah, usia 36 tahun, warga Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben. Dan ada 282 orang pengungsi, termasuk didalamnya mereka yang dirawat, karena luka berat maupun ringan.

Kasus ini sedemikian ramai dibicarakan media massa dengan berita yang simpang siur, dan banyak yang menganggap bahwa penyebab utamanya adalah masalah beda faham antara Sunni dengan Syi’ah. Namun menurut Bupati Sampang, anggapan bahwa masalah beda faham sebagai pemicu utama terjadinya kasus Sampang itu kurang tepat.

Saat ini banyak LSM (lembaga Swadaya Masyarakat), salah satu yaitu KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), yang memelintir berita, menarik kasus Sampang ini ke ranah pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia). Kasus ini dipahami sebagai penindasan oleh kelompok mayoritas, yaitu warga yang berfaham Sunni terhadap kelompok minoritas, yaitu warga yang berfaham Syi’ah.

Pemahaman dan pemberitaan yang salah paham semacam ini yang semakin memperkeruh suasana dan menjadikan permasalahan ini semakin akut dan sulit diselesaikan. Sebenarnya pemicu awal terjadinya kasus Sampang tersebut bukanlah konflik agama, melainkan konflik pribadi, yang berurusan dengan masalah percintaan yang melibatkan Roisul Hukamah (kiyai Rois) dengan adiknya, Tajul Muluk (kiyai Tajul). Perlu diketahui bahwa sebelum terjadi konflik tersebut mereka masih menganut aliran yang sama, yaitu Syi’ah. Sejak kiyai Tajul pulang ke Karang Gayam dari sekolah di Timur Tengah tahun 1999, kiyai Tajul dan keluarganya, termasuk kiyai Rois, mulai menyebarkan faham Syiah dan mendirikan pesantren Misbahul Huda. Kiyai Rois bahkan sempat menjadi pengurus di IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia), yaitu organisasi Syi’ah di Indonesia. Dia juga yang paling aktif mewakili keluarga tersebut ke acara-acara yang diselenggarakan oleh IJABI termasuk ketika organisasi mengadakan kongres di Makassar.

------------------------