Mengungkap Tabir Tragedi Syi’ah VS Sunni di Sampang

0
451

Menguak Pemicu Tragedi Syi’ah VS Sunni di Sampang, Madura.

Pada 26 Agustus 2012 yang lalu, di dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang terjadi huru-hara dengan tindak kekerasan, hingga terdapat 47 rumah yang dibakar massa, yang semuanya milik warga Syiah pimpinan Tajul Muluk (kiyai Tajul).

Sementara untuk korban jiwa akibat kerusuhan itu ada satu orang meninggal atas nama Hasyim alias Hammamah, usia 36 tahun, warga Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben. Dan ada 282 orang pengungsi, termasuk didalamnya mereka yang dirawat, karena luka berat maupun ringan.

Kasus ini sedemikian ramai dibicarakan media massa dengan berita yang simpang siur, dan banyak yang menganggap bahwa penyebab utamanya adalah masalah beda faham antara Sunni dengan Syi’ah. Namun menurut Bupati Sampang, anggapan bahwa masalah beda faham sebagai pemicu utama terjadinya kasus Sampang itu kurang tepat.

Saat ini banyak LSM (lembaga Swadaya Masyarakat), salah satu yaitu KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), yang memelintir berita, menarik kasus Sampang ini ke ranah pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia). Kasus ini dipahami sebagai penindasan oleh kelompok mayoritas, yaitu warga yang berfaham Sunni terhadap kelompok minoritas, yaitu warga yang berfaham Syi’ah.

Pemahaman dan pemberitaan yang salah paham semacam ini yang semakin memperkeruh suasana dan menjadikan permasalahan ini semakin akut dan sulit diselesaikan. Sebenarnya pemicu awal terjadinya kasus Sampang tersebut bukanlah konflik agama, melainkan konflik pribadi, yang berurusan dengan masalah percintaan yang melibatkan Roisul Hukamah (kiyai Rois) dengan adiknya, Tajul Muluk (kiyai Tajul). Perlu diketahui bahwa sebelum terjadi konflik tersebut mereka masih menganut aliran yang sama, yaitu Syi’ah. Sejak kiyai Tajul pulang ke Karang Gayam dari sekolah di Timur Tengah tahun 1999, kiyai Tajul dan keluarganya, termasuk kiyai Rois, mulai menyebarkan faham Syiah dan mendirikan pesantren Misbahul Huda. Kiyai Rois bahkan sempat menjadi pengurus di IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia), yaitu organisasi Syi’ah di Indonesia. Dia juga yang paling aktif mewakili keluarga tersebut ke acara-acara yang diselenggarakan oleh IJABI termasuk ketika organisasi mengadakan kongres di Makassar.

Awal konflik bermula ketika kiyai Rois terpikat ingin menikahi Halimah, salah satu santri kiyai Tajul. Maka, untuk itu Kholifah, Istri kiyai Rois, meminang Halimah untuk dinikahi suaminya. Halimah lalu dibawa bermukim di rumah kiyai Rois, dengan seizin kiyai Tajul dan Mat Badri (orang tua Halimah). Namun demikian, menurut kiyai Tajul, sebetulnya Halimah hanya diminta membantu di rumah kiyai Rois, bukan dipinang. kiyai Tajul mengizinkan Halimah ikut kiyai Rois karena kiyai Rois dikenal sebagai kiai, dan orang tua Halimah juga mengizinkan anaknya ikut kiyai Rois.

Disisi lain, sepertinya kiyai Tajul juga tidak menginginkan Halimah dinikahi kiyai Rois, mengingat perbedaan usia Halimah yang masih terlalu muda, yaitu 12 tahun dibandingkan dengan kiyai Rois yang sudah tua. Disamping itu, kiyai Rois yang berperawakan gagah dan tampan itu dikenal suka kawin, istrinya banyak dan terlalu sering berganti-ganti istri. Perlu diketahui bahwa dalam ajaran Syi’ah diperbolehkan nikah Mut’ah (kawin kontrak), yang memungkinkan seseorang untuk nikah selama beberapa saat sesuai dengan kesepakatan, misalkan nikah selama beberapa tahun, beberapa bulan, atau bahkan sekedar beberapa hari saja.

Pada suatu ketika ada seseorang bernama Zainal minta tolong kiyai Tajul untuk meminangkan anaknya, Dul Azid, untuk menikah dengan Halimah. Kiyai Tajul memenuhi permintaan tersebut dan pinangannya diterima oleh Mat Badri, orang tua Halimah. Maka kiyai Tajul lalu mengambil Halimah dari rumah kiyai Rois dengan alasan akan menikah. Awalnya kiyai Rois tidak mengetahui bahwa Halimah akan dinikahkan dengan Dul Azid. Dalam benak kiyai Rois, Halimah akan dinikahi kiyai Tajul, dan mengingat Halimah sebenarnya adalah santri kiyai Tajul, maka kiyai Rois dengan berat hati bersedia mengalah.

Namun setelah mengetahui bahwa Halimah sudah dipinangkan dengan orang lain, kiyai Rois tidak terima dan memanggil Mat Badri, Zainal dan Dul Azid. Adapun sebelum menghadap kiyai Rois, tiga orang tersebut terlebih dahulu minta pendapat kiyai Tajul, apakah perlu memenuhi panggilan kiyai Rois atau tidak. Namun demikian, mengingat kiyai Rois adalah orang yang temperamental dan suka memukul orang, maka kiyai Tajul menyarankan untuk tidak memenuhi panggilan kiyai Rois karena ditakutkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Berawal dari konflik tersebut, permasalahan semakin membesar, dan kiyai Rois keluar dari Syi’ah, kembali ke Sunni bersama dengan massanya. Kiyai Rois dengan membawa massanya, yang berfaham Sunni itu melawan kiyai Tajul, yang berfaham Syi’ah. Jumlah massa kiyai Rois berkembang pesat karena masyarakat Madura secara umum memang telah menyatu dengan NU (Nahdlatul Ulama), yang berfaham Sunni. Sedemikian menyatunya masyarakat Madura dengan NU, bahkan tidak sedikit orang Madura yang merasa bahwa NU adalah agama mereka. Mengingat baik kiyai Tajul Maupun kiyai Rois keduanya memiliki massa, maka gesekan-gesekan besarpun susah dielakkan, yang sebagian diantaranya telah terjadi pengerusakan dan pembakaran rumah pengikut kiyai Tajul pada Desember 2011, dan pembakaran rumah-rumah pengikut kiyai Tajul pada 26 Agustus 2012 yang lalu.

Sejak keluarya kiyai Rois dari Syi’ah, kembali ke Sunni dan memprovokasi masyarakat Sunni untuk memerangi kiyai Tajul beserta faham Syi’ahnya, maka masyarakat Madura, yang mayoritas telah menyatu, mendarah daging dengan NU dan faham Sunninya tidak bisa lagi memandang masalah ini selain sebagai masalah perbedaan faham. Bagi warga NU, faham Syi’ah itu sesat, dan harus diberantas, yang pada akhirnya terjadilah pertikaian-pertikaian fisik.

Namun demikian, yang banyak menjadi korban dari pertikaian-pertikaian tersebut adalah para pengikut kiyai Tajul, yang sebenarnya mereka adalah orang-orang yang sangat awam. Mereka mengikuti kiyai Tajul hanya karena menganggap bahwa Tajul Muluk adalah seorang kiyai, yang harus dipatuhi. Mereka adalah masyarakat yang tinggal di lokasi yang terisolir.

Secara sosiokultural mereka sangat terbelakang, dan dapat dikatakan mayoritas mereka berpendidikan sangat rendah, atau bahkan tidak mengenyam dunia pendidikan sama sekali. Yang mereka tahu, untuk selamat di dunia dan akhirat harus berbakti kepada kiyai, sebagai orang yang banyak ilmunya, apa lagi kiyai Tajul telah belajar sampai ke negeri Arab.

Penullis: M. Basyir Baick
Redaktur: Ferry Arbania