
Maduraexpose.com — Dalam lanskap modern yang terus berubah, pelestarian budaya sering kali menjadi isu yang terpinggirkan, tergerus oleh laju globalisasi yang tak terbendung. Namun, momen penting yang terjadi di Kesultanan Sumenep pada 19 April 2021 silam, antara Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti dan Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo, membawa harapan baru.
Keduanya sepakat untuk mendorong lahirnya Kongres Budaya Nasional, sebuah inisiatif ambisius yang bertujuan untuk mengumpulkan para raja dan sultan se-Nusantara. Lebih dari sekadar pertemuan seremonial, kongres ini adalah langkah strategis untuk memastikan warisan dan budaya luhur bangsa kita terus hidup.
Apa urgensinya? LaNyalla sendiri menegaskan bahwa upaya ini bukan main-main. Ia melihat bahwa di tengah gempuran pengaruh asing, kebudayaan dan kearifan lokal adalah filter esensial yang dapat mempertahankan jati diri bangsa. Inilah alasan mengapa DPD RI telah bersurat kepada Presiden Joko Widodo, mengusulkan agar Hari Kebudayaan dan Kearifan Lokal ditetapkan sebagai hari nasional. Ini adalah pengakuan bahwa budaya bukan hanya hiasan, melainkan pondasi karakter bangsa.
Perhatian Lebih untuk Penjaga Tradisi
Meskipun Indonesia telah memiliki Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, masih banyak harapan yang belum terpenuhi, terutama dari para pemimpin kesultanan dan kerajaan. LaNyalla menyoroti keluhan mereka tentang minimnya dukungan anggaran dari pemerintah pusat untuk melestarikan warisan dan eksistensi mereka. Ironisnya, mereka adalah penjaga utama tradisi yang menjadi tulang punggung identitas kita.
Menjawab keresahan ini, DPD RI pada tahun 2018 telah mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perlindungan Hak Masyarakat Adat. RUU ini secara spesifik mengamanatkan alokasi anggaran yang memadai dari APBN untuk Lembaga Masyarakat Adat. Ini bukan hanya tentang uang, tetapi tentang pengakuan dan perlindungan hak-hak dasar mereka, termasuk hak atas tanah dan sumber daya. Kongres Budaya Nasional yang diinisiasi ini, jika terwujud, akan menjadi wadah kuat untuk menyuarakan aspirasi ini secara kolektif, mendorong RUU tersebut agar segera masuk dalam Program Legislasi Nasional.
Kolaborasi dan Arah Baru untuk Indonesia
Kunjungan LaNyalla ke Sumenep, yang disambut dengan penghormatan mendalam dan pertukaran cinderamata berupa keris, simbol kekerabatan dan penghormatan pada budaya, menunjukkan komitmen nyata. Pujiannya terhadap eksistensi Kesultanan Sumenep sebagai “wujud nyata bahwa bangsa ini adalah bangsa pelestari budaya” bukan sekadar basa-basi. Ini adalah pengakuan bahwa tradisi yang kuat dapat menjadi daya dukung vital bagi sektor pariwisata dan ekonomi lokal.
Dengan kolaborasi antara pemerintah pusat (melalui DPD RI) dan pemerintah daerah (Bupati Sumenep), serta keterlibatan aktif dari para raja dan sultan, Kongres Budaya Nasional memiliki potensi besar untuk menjadi titik balik. Ia dapat menghasilkan rekomendasi yang kuat untuk menguatkan Bhinneka Tunggal Ika di tengah tantangan global. Lebih dari itu, inisiatif ini mengirimkan pesan penting: bahwa warisan leluhur kita bukanlah peninggalan usang, melainkan sumber kekuatan dan identitas yang harus terus dijaga, dirayakan, dan dihidupkan kembali demi masa depan bangsa.
Penulis Red/Editor: Â Ferry Arbania | Madura Expose


