Melihat Tegal dalam Babad Tanah Jawa

0
1807
Pakaian khas Tegal - Dengan baju-celana hitam-hitam iket wulung , ikat pinggang sarung, sedang perempuannya menggunakan kebaya kain batik corak pesisiran

MADURAEXPOSE.COM— Sumber yang menjadi rujukan sejarah Tegal dalam masa ini adalah Babad Tanah Jawa yang ditulis dalam bahasa Jawa dan merupakan cerita rekaan yang berdasarkan sejarah, ditulis dalam bentuk tembang macapat, yakni sejenis puisi dalam bahasa Jawa yang terikat konvensi penulisan yang sangat ketat.

Babad merupakan salah satu genre di antara sekian banyak sastra Jawa yang mengisahkan cerita sejarah. Tidak sedikit sejarawan asing melakukan penelitian sejarah Jawa bersumber dari Babad Tanah Jawa. Bila sejarah sekadar cra khusus dalam bercerita, maka babad pun cara khusus bercerita. Sebagai sebuah pelajaran dari masa lalu atau sebuah cermin bagi masa sekarang, babad telah berhasil menjawab pertanyaan yang mungkin ditanyakan orang-orang sezamannya.

Taufik Abdullah menyebutkan babad sebagai sejarah lokal, yang mengandung pengertian kisah kelampauan dari suatu masyarakat di wilayah geografis bertaraf lokal. Sasarannya adalah asal-ususl, pertumbuhan, dan perkembangan kelompok masyarakat setempat.

Jejak Tegal dapat dilacak sejak zaman Sultan Agung, raja Mataram ketiga (1613-1645). Sultan Agung, menyerahkan Tegal kepada pamannya sendiri, Wirosuto dengan pangkat Tumenggung.

Tegal pada masa kerajaan Mataram, menjadi daerah yang sangat diperhitungkan. Bukan saja karena letaknya yang strategis, tetapi juga pensuplai bahan makananan yang dapat diandalkan Mataram. Di era pemerintahan Sultan Agung, pelabuhan Tegal menjadi persinggahan bukan saja kapal-kapal Mataram, tetapi juga kapal-kapal Belanda.

Di era ini belum ada catatan yang menyebutkan Belanda mendarat dan memiliki markas di Tegal. Baru setelah era Amangkurat II, beberapa catatan menyebutkan Belanda singgah di pesanggrahan Raja muda Pangeran Adipati Anom di Tegal.

Wirosuto dinobatkan menjadi Adipati Tegal setelah berjasa membantu Sunan Amangkurat melawan Trunajaya. Atas kesetiaan itulah maka Sunan Amangkurat I mengangkat Wirosuto menjadi Adipati yang membawahkan wilayah Tegal sampai Losari dengan gelar Arya Martalaya. Pusat pemerintahan Kabupaten Tegal berada di pendopo Kaloran. Lokasi pendopo kabupaten ini di bekas Kantor DInas Pekerjaan Umum Kabupaten Dati II Tegal, yang sekarang sudah dibongkar dan menjadi Pasar Pagi blok C (2015).

Sebelum diangkat menjadi Adipati Tegal, Martalaya adalah Senapati perang yang memimpin penyerangan dan penaklukan di wilayah Jawa Timur. Bersama dengan Pangeran Purbaya, Martalaya berhasil menaklukan Wirasaba, Lasem, Tuban, Pasuruan dan daerah-daerah lain yang menjadi “musuh” Mataram.

(ditegal.com)