MAHASISWA UNEJ Bawa Teknologi Hilir-Hilir ke Desa Seletreng: Usir Cara ‘Primitif’ Nelayan Lewat Fish Light dan Smart Dryer

Terbit: 28 November 2025 | 08:04 WIB

SITUBONDO  – Sebuah terobosan teknologi perikanan kini tengah diuji coba di Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan, Situbondo. Adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (UNEJ) yang meluncurkan program “Bluetech Empowerment”—sebuah inisiatif cerdas untuk menguatkan ekonomi pesisir melalui teknologi dan peningkatan nilai tambah hasil laut.

Program ini bukan hanya agenda lokal, melainkan rangkaian International Community Engagement yang melibatkan kampus luar negeri, University Sultan Zainal Abidin (UnisZa) Malaysia.

Dari Hulu ke Hilir: Lawan Cara Tangkap Tradisional

 

Dosen Pembina FEB UNEJ, Bayu Aprillianto, menjelaskan bahwa program ini adalah bagian dari inisiatif Mahasiswa Berdampak Kemdiktisaintek, di mana mahasiswa didorong untuk memberikan kontribusi nyata berbasis kebutuhan lapangan. Desa Seletreng dipilih karena potensi hasil lautnya yang besar namun belum dimanfaatkan secara optimal.

“Para nelayan masih menangkap ikan secara tradisional menggunakan jala sehingga hasilnya belum optimal,” jelas Bayu. Selain itu, selama ini hasil tangkapan hanya dijual mentah tanpa proses hilirisasi.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, tim mahasiswa UNEJ memperkenalkan dua inovasi kunci, mencakup sektor hulu hingga hilir:

  1. Teknologi Fish Light: Teknologi penarik ikan untuk meningkatkan hasil tangkapan di laut.

  2. Smart Fish Dryer: Oven pengering ikan bertenaga surya untuk pengolahan pascapanen.

“Program kami ini dari hulu ke hilir. Ada teknologi fish light dan smart fish dryer, serta pendampingan pengolahan ikan agar masyarakat memiliki kegiatan ekonomi baru,” tuturnya.

Revolusi Pengeringan Ikan: Dari 12 Jam Menjadi 6 Jam

 

Kepala Desa Seletreng, Taufik Hidayat, menyambut antusias kolaborasi internasional ini. Ia mengakui, Smart Fish Dryer membawa dampak signifikan, terutama dalam efisiensi waktu.

“Masyarakat kami selama ini masih ‘primitif’ dalam mengeringkan ikan. Pengeringan alam bisa sampai 10 sampai 12 jam, sementara dengan alat ini enam jam sudah kering,” terang Taufik.

Inovasi oven pengering bertenaga surya ini memecahkan masalah klasik nelayan, di mana kualitas produk olahan sangat tergantung pada cuaca. Saat ini, kedua alat—yang diklaim mampu mengeringkan lebih dari 16 kilogram ikan basah per sesi—masih dalam tahap uji coba intensif.

Taufik berharap inovasi ini mampu mendorong peningkatan UMKM nelayan di Seletreng, sejalan dengan nawacita Bupati Situbondo untuk menjadikan perekonomian masyarakat naik kelas. Kolaborasi kampus ini diharapkan menjadi kick-off bagi Situbondo menuju panggung ekonomi yang lebih kuat berbasis kelautan.

Red/Editor: Ferry Arbania

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Titip Lab di Mapolda Jatim

Terbit: 15 April 2026 | 14:41 WIB SUMENEP, MADURA EXPOSE– Keheningan Pantai Pasir Putih Kahuripan, Dusun Lombi Timur, Desa Gedugan, Kecamatan Giligenting, mendadak pecah pada Senin sore (13/4). Seolah menjadi…

Konferensi Pers Temuan Kokain 27 Kg Batal Mendadak Kapolda Jatim Dipanggil Wakapolri

Terbit: 14 April 2026 | 15:00 WIB SUMENEP – Publik yang menanti rilis resmi terkait temuan fantastis 27,83 kilogram diduga kokain di Giligenting harus gigit jari. Agenda konferensi pers yang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *