Magnet Spiritual KH Abuya Busyro Karim di Haul ke-43 PPMA Sumenep: Mengais Berkah dan Meneladani Disiplin Sang Muassis

Terbit: 13 Februari 2026 | 08:22 WIB

SUMENEP, maduraexpose.com – Atmosfer khidmat di Jalan Kartini Gang V, Desa Pangarangan, mendadak kian bergetar saat sosok KH Abuya Busyro Karim melangkah mantap memasuki kompleks Pondok Pesantren Mathaliul Anwar (PPMA) Sumenep, Kamis (12/2/2026). Kehadiran pengasuh Ponpes Al-Karimiyyah ini seolah menjadi magnet bagi ribuan alumni yang rindu akan sosok santri senior yang sukses menapak jalan pengabdian.

Mantan Bupati Sumenep dua periode yang hadir didampingi sang istri, Nyai Nur Fitriana Busyro, disambut dengan barisan santri dan alumni yang bergegas mendekat demi mengharap barakah lewat mushafahah (bersalaman) dan mencium tangan sang ulama dengan penuh takzim.

Napak Tilas Kedisiplinan Kiai Abdullah

Bagi Abuya Busyro, PPMA bukan sekadar almamater, melainkan kawah candradimuka yang membentuk karakter kepemimpinannya. Di tengah riuh rendah Haul ke-43 ini, ia mengajak seluruh hadirin untuk tidak terjebak pada seremoni belaka, melainkan menyelami samudra keteladanan sang muassis, KH Abdullah bin Husein.

“Haul ini bukan hanya soal mengenang, tapi soal itba’ (mencontoh) laku lampau Kiai Abdullah. Terutama bagaimana cara beliau mendidik santrinya dengan disiplin yang luar biasa,” tutur Abuya Busyro dengan nada reflektif.

Dalam ingatan Abuya, KH Abdullah adalah sosok guru yang waktu dan nafasnya didedikasikan untuk ilmu. “Beliau itu kalau morok (mengajar) sangat disiplin. Jika jadwalnya jam satu, maka sebelum jam satu beliau sudah duduk tenang di tempat pengajian. Beliau adalah teladan nyata bahwa waktu adalah amanah,” kenangnya.

Pesan ‘Cadas’ untuk Generasi Santri

Kepada ribuan santri yang kini sedang nyantri di Pangarangan, Abuya Busyro menitipkan pesan “Cadas” tentang hakikat menuntut ilmu. Ia menegaskan bahwa kecerdasan tanpa tirakat dan pengorbanan adalah hal yang mustahil.

“Lailatul ilmi la tustatho’u bi rahatil jism. Ilmu itu tidak akan bisa diraih dengan tubuh yang bermalas-malasan. Jangan hanya silau melihat orang pintar, tapi lihatlah bagaimana proses berdarah-darah, kedisiplinan, dan tirakat panjang di belakangnya,” tegas Abuya dengan penuh penekanan.

Kehadiran KH Abuya Busyro Karim dalam haul kali ini menjadi jembatan sanad spiritual yang menghubungkan memori masa lalu dengan semangat generasi masa kini. Beliau datang bukan sekadar sebagai tokoh publik, melainkan sebagai seorang murid yang pulang ke rumah gurunya untuk merawat nilai-nilai ketulusan dan keikhlasan yang menjadi pondasi kokoh PPMA hingga saat ini. [*]

Red./Editor: Ferry Arbania | Madura Expose

 

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *