SUMENEP, maduraexpose.com – Langit Pangarangan siang itu seolah turut menunduk khidmat. Ribuan santri dan alumni dari berbagai penjuru berkumpul, melabuhkan rindu dan doa dalam balutan peringatan Haul ke-43 KH Abdullah bin Husein, sang muassis (pendiri) Pondok Pesantren Mathaliul Anwar (PPMA) Sumenep, Kamis (12/2/2026).
Masjid Aminah menjadi saksi bisu betapa mahabbah (cinta) kepada sang guru tak pernah lekang oleh waktu. Lantunan tahlil yang menggema usai salat Zuhur bukan sekadar ritual, melainkan sambungan sanad batin antara santri dengan sang perintis.
Keikhlasan yang Membuahkan Berkah
Usai doa bersama, suasana haru memuncak saat Pengasuh PPMA, KH Said Abdullah, melangkah menuju maqbarah (area makam). Di sela prosesi tabur bunga, air mata sosok ulama sekaligus tokoh nasional itu menetes, jatuh di atas pusara sang ayahanda. Sebuah momen emosional yang membuat ribuan alumni yang hadir ikut larut dalam keheningan muhasabah.
Ibnu Hajar, budayawan Sumenep sekaligus alumni senior PPMA, menyebutkan bahwa kebesaran pesantren ini hari ini adalah buah dari keikhlasan tingkat tinggi sang pendiri.
“Pondok ini berangkat dari hal kecil, dari kesederhanaan yang luar biasa. Jika kini ia menjadi besar, itu adalah bukti nyata ketulusan dan keikhlasan KH Abdullah bin Husein dalam membangun peradaban santri,” tutur Ibnu Hajar dengan nada bergetar.
Mencetak Kader Rahmatan Lil Alamin
Lebih dari sekadar mencetak ustaz dan kiai, PPMA terbukti telah mewarnai berbagai lini kehidupan. Alumni PPMA yang kini menjabat sebagai Tenaga Ahli Bupati Sumenep itu menegaskan bahwa kurikulum pesantren adalah kurikulum kehidupan.
“Kami dididik menjadi manusia yang rahmatan lil alamin. Maka tak heran jika dari rahim PPMA lahir para birokrat, politisi, hingga budayawan yang tetap memegang teguh nilai-nilai kesantrian,” tegasnya.
Haul ke-43 ini menjadi momentum napak tilas, sebuah pengingat bagi generasi milenial santri bahwa perjuangan gigih sang muassis harus dilanjutkan dengan kualitas yang mumpuni. Bagi ribuan alumni, pulang ke Pangarangan adalah cara mereka “menyetrum” ulang semangat perjuangan agar tetap menyala di tengah arus zaman. [*]
Red./Editor: Ferry Arbania







