maduraexpose.com
Tari muang sangkal khas Keraton Sumenep, Madura. [Foto: Ferry Arbania/Maduraexpose.com]
Radar Pemkab

LAUT HARGA MATI! Ratusan Nelayan Kangean Kejar Kapal PT KEI Hingga 14 Mil di Tengah Gelombang Maut!

491
×

LAUT HARGA MATI! Ratusan Nelayan Kangean Kejar Kapal PT KEI Hingga 14 Mil di Tengah Gelombang Maut!

Sebarkan artikel ini

Editor: Ferry Arbania

Aksi penolakan tambang migas ini melibatkan 28 perahu dari Kangean Utara, 7 dari Pulau Mamburet, 10 dari Kangean Timur, dan 10 dari Kangean Selatan. Rombongan bergerak sejak pagi dari wilayah Kangean Utara. ISTIMEWA.

KANGEAN— Gelombang tinggi dan ancaman kapal raksasa tak mampu mematahkan semangat perjuangan nelayan Kepulauan Kangean. Dalam aksi penolakan tambang migas yang penuh drama di tengah laut, ratusan nelayan Kangean mempertaruhkan nyawa mereka demi mempertahankan sumber kehidupan dari ancaman PT Kangean Energy Indonesia (KEI).

 

 

Sebanyak 55 perahu nelayan yang heroik – terdiri dari 28 perahu Kangean Utara, 7 dari Pulau Mamburet, 10 dari Kangean Timur, dan 10 dari Kangean Selatan – bersatu dalam barisan armada perlawanan. Mereka bergerak sejak subuh, bukan untuk mencari ikan, melainkan untuk menghadang survei seismik 3D yang dinilai akan menghancurkan ekosistem laut mereka.

 

 

Kapal Perusahaan ‘Ngacir’, Nelayan Melakukan Pengejaran Dramatis!

 

Puncak ketegangan terjadi di selatan Pulau Mamburet. Rombongan nelayan yang masif dan berani bertemu langsung dengan kapal milik PT KEI. Menurut peserta aksi, kapal perusahaan asing tersebut langsung menjauh ketika melihat perahu-perahu nelayan mendekat—sebuah indikasi nyata bahwa pihak perusahaan menghindari konfrontasi dengan rakyat pemilik laut.

 

 

Namun, nelayan Kangean tidak tinggal diam! Mereka menunjukkan aksi heroik yang tak terduga: melakukan pengejaran! Armada perahu nelayan memacu mesin mereka, mengejar kapal PT KEI hingga sejauh 14 mil ke barat Pulau Komerean!

 

 

Pengejaran dramatis ini baru berhenti ketika gelombang besar di tengah laut memaksa perahu-perahu tradisional tersebut untuk menghentikan laju. Aksi ini adalah pernyataan keras: Laut Kangean bukan tempat main-main bagi kepentingan korporasi migas!

 

 

 

“Laut Adalah Sumber Hidup Kami! Kami Menolak dengan Tegas!”

 

Orator aksi, Ahmad Yani, dengan lantang menyuarakan perlawanan yang murni dari hati nurani rakyat.

“Laut adalah sumber hidup kami! Jika pertambangan migas ini dipaksakan, nelayan Kangean akan hancur. Kami menolak dengan tegas!” ujarnya, Selasa (16/9/2025).

 

Aksi heroik ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan penyampaian delapan tuntutan utama yang harus dipenuhi: penghentian rencana tambang, perlindungan lingkungan, dan transparansi kebijakan.

 

Mereka mendesak agar Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wonsojudo, serta Menteri Kelautan dan Perikanan segera turun tangan menghentikan survei seismik yang merusak.

 

 

Di sisi lain, Manager Public Government Affairs PT KEI, Kampoi Naibaho, hanya bisa berdalih bahwa survei ini penting untuk “ketahanan energi nasional” dan berjanji “memperhatikan aspek lingkungan.” Namun, janji manis ini terasa hambar di hadapan aksi nyata penolakan nelayan yang melihat nasib masa depan mereka dipertaruhkan.

 

 

Aksi 55 perahu nelayan Kangean ini adalah sebuah peringatan keras bagi para pengambil keputusan: Kesejahteraan rakyat dan kelestarian lingkungan laut Kangean tidak boleh dikorbankan demi profit migas!

 

[nss/gim/mec/tim]

--------EXPOSIANA----
GAYA SAMBUTAN ACHMAD FAUZI WONGSOJUDO

 


 


---Exposiana----