maduraexpose.com

 

ZONA KAMPUS

Komitmen Kepemimpinan: Setelah Dr. & M.Pd.I, KH. Sahli Hamid Tambah Gelar MAP: Mengawal Peradaban

186
×

Komitmen Kepemimpinan: Setelah Dr. & M.Pd.I, KH. Sahli Hamid Tambah Gelar MAP: Mengawal Peradaban

Sebarkan artikel ini

Editor: Ferry Arbania

SAHAM PERADABAN TAK KENAL LELAH: Ketum KAPROWI, KH. SAHLI HAMID, Raih Gelar MAP; Mengapa Konsistensi Intelektual Pemimpin Pesantren Wajib Ditiru Generasi Muda

MALANG – Di tengah derasnya arus politik praktis dan hingar bingar digital, sebuah pesan penting mengenai gigihnya perjuangan intelektual datang dari dunia pesantren. Ketua Umum Kompolan Potoh Kiai Muhammad Rowi (KAPROWI), Dr. KH. SAHLI HAMID, M.Pd.I, M.A.P., kembali menunjukkan konsistensinya dalam dunia keilmuan dengan sukses meraih gelar Magister Administrasi Publik (MAP) dari Universitas Waskita Dharma (UNITAMA) Malang pada Sabtu (29/11/2025).

Pencapaian gelar MAP ini bukan sekadar tambahan deretan gelar di belakang nama beliau, tetapi merupakan simbol komitmen seorang tokoh pesantren dalam mengawal peradaban. Reaksi apresiasi pun mengalir deras, menunjukkan bahwa langkah KH. Sahli Hamid di jalur ilmiah ini mendapat dukungan penuh, terutama dari keluarga besar Bani Rowi.

I. Konsistensi Ilmiah: Saham untuk Memuliakan Ilmu

Kepemimpinan KH. Sahli Hamid patut dicermati, khususnya bagi generasi muda dan santri. Beliau dikenal sebagai sosok yang tidak pernah berhenti belajar, memanfaatkan kampus sebagai ruang untuk memperluas cakrawala keilmuan di luar tradisi pesantren.

Saat diwawancarai, beliau secara tegas menandaskan filosofi di balik kegigihannya:

“Saya ingin dengan terus mementingkan ilmu adalah bagian saham untuk memuliakan ilmu dan ahlinya yang merupakan salah satu derajat kenabian,” ujarnya, Selasa 2 Desember 2025.

Pernyataan ini agitatif dan mengandung makna mendalam: bahwa memuliakan ilmu dan para ahlinya adalah investasi jangka panjang, sebuah “saham peradaban” yang hasilnya akan dirasakan oleh seluruh umat.

Pelajaran Penting: Konsistensi seorang pemimpin dalam menuntut ilmu bukan hanya menaikkan derajat dirinya sendiri, tetapi juga memberikan legitimasi kuat terhadap peran ulama dan pesantren dalam lanskap akademik modern. Ini membuktikan bahwa ilmu agama dan ilmu umum (administrasi publik, dalam hal ini) dapat berjalan beriringan untuk menciptakan solusi sosial dan tata kelola yang lebih baik.

II. Menjembatani Pesantren dan Birokrasi Publik

Gelar Magister Administrasi Publik (MAP) yang diraih KH. Sahli Hamid juga memiliki relevansi tinggi, mengingat perannya sebagai tokoh masyarakat dan pimpinan organisasi. Administrasi Publik berkaitan erat dengan tata kelola, kebijakan, dan pelayanan publik.

Peran Sentral Tokoh Pesantren:

  1. Pengaruh Kebijakan Lokal: Dengan pemahaman mendalam tentang administrasi publik, tokoh pesantren memiliki kemampuan lebih baik dalam menganalisis dan memengaruhi kebijakan lokal yang berdampak pada pendidikan, kesejahteraan santri, dan masyarakat desa.
  2. Manajemen Lembaga: Ilmu ini secara langsung dapat diterapkan untuk profesionalisasi pengelolaan pesantren dan lembaga pendidikan di bawah naungannya, memastikan lembaga tersebut tidak hanya unggul secara spiritual tetapi juga efisien secara manajerial.
  3. Mewujudkan Good Governance: Keterlibatan ulama yang melek administrasi publik akan memastikan prinsip-prinsip good governance (tata kelola yang baik) dan integritas moral terintegrasi dalam sistem birokrasi, baik di tingkat lembaga maupun komunitas.

Kontribusi dan totalitas yang beliau tunjukkan, yang nyaris seluruh waktunya dihibahkan untuk pengabdian dan keilmuan, harus menjadi pengingat kolektif bagi kita semua: bahwa peradaban yang kokoh dibangun bukan di atas pondasi kekayaan materi, melainkan oleh kekuatan dan konsistensi intelektual para pemimpinnya.**

--------EXPOSIANA----
GAYA SAMBUTAN ACHMAD FAUZI WONGSOJUDO

 


 


---Exposiana----