MaduraExpose.com–Seni bonsai ataupun tanaman bonsai, sempat meredup dan sempat mencapai puncak, namun lebih stabil dibanding dengan jenis tanaman hias lainnya, nyatanya mereka masih tetap eksis dan bisa dijumpai di mana-mana. Seni bonsai ini berbeda dengan seni menanam antherium yang pernah ngetop 2-3 tahun silam, seni bonsai mempunyai pangsa penggemar tersendiri, terutama penggemar tanaman klasik, kata Pak Himawan salah satu penggemar bonsai yang saya temui di pameran. Unsur seninya lebih kentara dibanding jenis tanaman hias lainnya, imbuhnya lagi.

Kata seni dapat diartikan sebagai ekspresi yang memiliki unsur keindahan yang diungkapkan lewat suatu media yang bersifat nyata serta bisa dirasakan oleh kelima pancaindra. Diharapkan orang yang melihat atau mendengar akan ikut bahagia, ikut merasakan dengan apa yang dirasakan oleh pelaku seni tersebut. Bisa juga perwujudan dari impian sehingga bisa dinikmati oleh orang lain.

Tak jarang bagi orang yang tak menyukai seni atau tidak tahu seni menganggap seni bonsai adalah sesuatu yang kurang kerjaan, dan ini terserah tergantung pada masing-masing orang.

Pak Himawan adalah salah satu dari puluhan penggemar bonsai yang saya temui di dekat pendopo Kabupaten Ponorogo seminggu yang lalu. Koleksi bonsainya banyak, lebih dari 10 yang dipamerkan, tapi dia tidak mau disebut kolektor bonsai.

“Kulo niku sanes kolektor, yen kolektor niku wong sing sugih duwit, kulo kolekdol sing artine nglumpukne yen sajake payu yo didol,” katanya sambil tersenyum, dia merasa bukan kolektor bonsai meski koleksi bonsainya banyak dan bagus-bagus, dia merasa sebagai kolekdol yang diartikannya mengoleksi dan menge-dol(menjual) bila harganya cocok. 

“Bonsai ingkang wonten sebelah niki kemedol, yen ingkang celak paseban niko rata-rata mboten disade ingkang kagungan para juragan,” kata Pak Himawan sambil menunjuk ke arah paseban yang di tempat itu juga digelar pameran bonsai. Kemedol artinya sangat bernafsu untuk dijual, dol (jual).

Menurutnya rata-rata bonsai miliknya seharga 4-7 juta, dan ada pula salah satu koleksinya di pameran ini ditawar 12 juta tapi belum diberikan, dia berharap laku 15 juta. 

Merawat bonsai adalah pekerjaan sampingan, menurutnya belum bisa diandalkan karena harga seni itu tidak ada patokan, ketika suka harganya bisa tinggi dan begitu tidak suka harganya bisa jatuh. Makanya harus ada pekerjaan tetap lainnya, dia hanya sekedar hobi dan tergabung dalam komunitas PPBI 

Pada waktu dan kesempatan yang sama juga digelar pameran bonsai, yang dekat pendopo penyelenggaranya PPBI sedangkan yang di utara paseban penyelenggaranya klub Samandiman, klub lokal penggemar bonsai di Ponorogo yang tidak tergabung dalam PPBI. Samandiman ini hanya ada di Ponorogo bersifat lokal, sedangkan PPBI ada kepengurusan tingkat kabupaten, provinsi, sampai kepengurusan nasional.

Keduanya sama-sama penghobi bonsai dan berurusan dengan bonsai, yang membedakan hanya AD/ART-nya, Samandiman banyak kreteria yang menjadi acuan, mulai jenis, model, dan usia bonsai. Sementara PPBI lebih lunak soal aturan sehingga anggota lebih diberi kebebasan berkreasi. Harga bonsai dari Samandiman lebih mahal dibanding harga di klub PPBI tersebut, seperti daftar harga yang tercantum dalam katalog kecil yang ditempel di tanaman tersebut. Samandiman kebanyakan beranggotakan orang-orang kaya, mereka para kolektor, jarang sekali mereka menjual koleksinya, tutur mas Prasojo yang sama-sama melihat pameran kemarin. Bukan kemedol atau kolekdol seperti istilahnya Pak Himawan PPBI.

Menurut Pak Sapto Jatmiko (berbaju putih berkopiah), pameran ini diselenggarakan dalam rangka memeriahkan Grebek Suro di Ponorogo, keduanya dirangkul, keduanya sama-sama berpontensi, banyak tanaman langka dan khas yang terselamatkan, dan bisa dinikmati generasi sekarang.

“Dinas pariwisata sebagai orang tua hanya memfasilitasi, perbedaan prinsip di antara keduanya bukan masalah, tugas orang tua memberi tempat dan merangkul anak-anaknya, toh mereka tidak bermusuhan dan tidak saling menyalahkan,” kata Pak Sapto Jatmiko Kepala Dinas Pariwisata yang kemarin hadir menikmati pameran di kedua stan tersebut.

Banyak bonsai Ponorogo yang tembus di tingkat nasional bahkan ajang internasional, sayang sekali bila tidak beri tempat, dan mereka bisa menjadi kebanggaan Ponorogo, jelasnya lagi.

Keduanya mengharap ajang seperti ini lebih sering diadakan, dan berharap pemerintah bisa mewadahi dan memfasilitasi. Dari pameran ini dalam sehari puluhan juta terjadi transaksi dari para kolektor atau pemburu. Dengan lebih sering diadakan ivent semacam ini mereka yakin masyarakat akan lebih banyak yang mencintai bonsai. Tujuan mereka memasyarakatkan bonsai, agar bonsai dikenal dan dicintai, sekaligus ikut berpartisipasi.

Bukan sebaliknya “membonsai masyarakat” tentunya.

“Selamat datang di Ponorogo, Selamat datang di kota seni budaya” 

(kms)

https://www.kompasiana.com/bunnan/5620a0c91d23bd45078b4568/kolekdol-bonsai-dan-kolektor-bonsai