Nelayan menyandarkan perahunya di pesisir Selat Madura, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (5/5). Akibat cuaca yang tidak menentu dan sulit diperdiksi menyebabkan sejumlah nelayan di daerah tersebut terpaksa mencari ikan dan kepiting di sekitar wilayah itu. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/Koz/pd/15.

SUMENEP, MADURA EXPOSE – Kisah mengerikan enam wisatawan yang hendak ke Gililabak, Sumenep melalu jalur laut (memang tidak ada jalur darat) sampai kapanpun menjadi traumatik tersendiri yang tak mudah terlupakan, dan mungkin menjadi pelajaran beharga untuk tidak mengulangi perjalanan yang sama.

Hari itu, Minggu 7 Mei 2015, Ines bersama 3 teman cewek dan dua orang cowok, semuanya dari Pamekasan menaiki perahu bersama seorang nelayan hendak pulang dari Pulau Gililabak, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Sayangnya, baru 15 menit berlayar ditengah laut lepas, tiba-tiba mesin perahu mendadak mati. Tak ayal, perahu yang mereka tumpangi dihempas kesana-kemari dan terombang-ambing ditengah laut, hingga menimbulkan kepanikan yang luar besar.

Saat kejadian, waktu menunjukkan pukul 5 sore. Atah perahu yang mesinnya mendadak mati tersebut kian tak tentu arah. Penumpang menangis sejadi-jadinya, karena hingga malam menyelimuti lautan, perahu mesin tetap belum menyala. Wisatawan menangis meminta pertolongan, namun suara mereka kandas ditengah lautan yang mulai tampak mengerikan.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Parahnya lagi, lanjut Ines, pemilik perahu tidak membawa lampu, hingga wajah gelap itu, membuat enam wisatawan tak sanggup menahan rasa kecut dan ketakutan yang menguasai hati dan pikiran mereka.

“Maksud hati ingin segera pergi dari Gili Labak, saat itu sudah pukul lima sore. Mendadak mesih perahu mati, kami terombang-ambing mengikuti arus gelombang dengan rasa takut yang mencekam,” ujar salah satu dari mereka.

Ditengah kepanikan luar biasa, mereka berinisiatif melakukan penerangan darurat dengan menggunakan handphone mereka.Beberapa jam setelah mengapung ditenga lautan, satu diantara mereka baru tersambung dengan pihak kepolisian agar segera melakukan penyisiran.

“Dan polisi menemukan kami sudah dikawasan perairan Tanjung Saronggi. Benar-benar trauma yang luar biasa. Harusnya jalur wisata Gililabak dilengkapi dengan pengamanan dari pihak pengelola maupun Pemkab,” keluh salah satu wisatawan sambil meneterskan air mata. [dbs/Red]