maduraexpose.com

 


Wanita Kita

Kisah Cinta Abadi: Zakat, Perempuan, dan Senandung Kemerdekaan Ekonomi

444
×

Kisah Cinta Abadi: Zakat, Perempuan, dan Senandung Kemerdekaan Ekonomi

Sebarkan artikel ini

Editor: Ferry Arbania

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama---__

Madura Expose – Dalam setiap langkah perempuan akar rumput yang berjuang di bawah bayang-bayang utang, tersembunyi sebuah harapan abadi akan kemerdekaan. Harapan itu kini menemukan suaranya yang paling merdu, dalam sebuah aliansi yang lahir dari hati: program kolaborasi antara Baznas RI dan Muslimat NU yang didukung penuh oleh Dr. Lia Istifhama, anggota DPD RI. Ini bukan sekadar berita, tapi sebuah kisah cinta tentang keadilan dan martabat.

Seperti seorang pahlawan yang datang tepat waktu, program Women Entrepreneurship berbasis zakat produktif dan microfinance syariah ini hadir untuk meruntuhkan cengkeraman gelap riba dan bank titil. Selama ini, pinjaman berbunga tinggi telah menjebak para ibu, memadamkan mimpi, dan membisukan potensi mereka. Kini, sebuah janji baru telah terukir: janji untuk mengembalikan senyum dan membangun kemandirian.

 


Melalui program Baznas Microfinance Majelis Taklim (BMMT), ribuan kader perempuan Muslimat NU akan disambut dengan tangan terbuka. Mereka akan diberi akses pada pembiayaan syariah yang murni, tanpa bunga yang membebani. Ini adalah investasi cinta dan kepercayaan, yang tidak hanya memberikan modal, tetapi juga pelatihan usaha, bimbingan, dan pendampingan komunitas yang erat. Program awal ini akan menyentuh hati 1.000 majelis taklim di 20 provinsi, dengan total alokasi awal senilai Rp 2 miliar. Ini adalah benih-benih harapan yang akan tumbuh menjadi hutan kemandirian.

“Ini revolusi ekonomi perempuan berbasis zakat. Bukan sekadar ceramah motivasi, tapi aksi nyata,” tegas Ning Lia, sapaan akrab Lia Istifhama, dengan tatapan penuh keyakinan, Jumat (8/8/2025). Suaranya adalah gaung dari mimpi ribuan perempuan yang ingin terbebas.

Skema pembiayaan ini laksana embun yang menyejukkan, bebas bunga dan didasarkan pada kepercayaan komunitas. Ia berfokus pada pengembangan harta karun lokal: kuliner rumahan yang lezat, kerajinan tangan yang artistik, warung sembako yang menjadi jantung desa, hingga jasa digital yang merajut masa depan. Program ini adalah pelukan hangat bagi mereka yang selama ini terpinggirkan, menawarkan sebuah jalan lain yang jauh dari jerat rentenir yang mencekik.

“Kami di DPD RI siap mengawal program ini agar tepat sasaran dan bebas penyimpangan, demi ekonomi perempuan yang mandiri,” tutur Lia, menunjukkan komitmen yang tak tergoyahkan. Ia menekankan bahwa ini adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan pengawasan, pelatihan, dan evaluasi berkelanjutan.

Lia juga melihat model pemberdayaan berbasis komunitas kader Muslimat NU ini sebagai cerminan dari semangat inklusif yang harus menjadi pilar bangsa. “Saatnya Muslimat NU naik kelas menjadi pilar ekonomi umat. Jangan beri ruang bagi rentenir,” tambahnya, menyalakan api semangat di setiap hati yang mendengarkan.

Sinergi ini, menurut Kepala Divisi Bank Zakat Mikro BAZNAS RI, Noor Aziz, adalah sebuah babak baru dalam membangun ekonomi yang adil dan berkelanjutan. “Kita tidak hanya menyalurkan zakat, tapi membentuk ekosistem ekonomi syariah dari akar rumput,” pungkasnya. Sebuah janji untuk menumbuhkan sebuah taman ekonomi yang indah, subur, dan adil, di mana setiap perempuan dapat tumbuh dan berkembang dengan bebas.

Sumber foto:/NewsSatu

--------EXPOSIANA----
GAYA SAMBUTAN ACHMAD FAUZI WONGSOJUDO

 


 


---Exposiana----

---***---