Peradaban yang Sekarat: Kiai Sahli Hamid (Pendiri STIDAR) Bongkar Rahasia Spiritual di Balik ‘Fakir Respon’ Grup WhatsApp

Terbit: 3 November 2025 | 12:07 WIB

SUMENEP – Di tengah hiruk pikuk arus digital dan kemajuan teknologi, Pondok Pesantren Raudlatul Iman Sumenep melayangkan sebuah kritik tajam yang menyentuh inti peradaban modern. Pengasuh pesantren sekaligus Pendiri Kampus STIDAR, Dr. KH. Sahli Hamid, mengingatkan umat tentang bahaya tersembunyi dari sikap abai yang ia sebut sebagai ‘fakir respon’ dalam komunikasi sehari-hari, bahkan di ranah virtual.

Dalam sebuah diskusi terbatas yang berlangsung khidmat, Kiai Sahli memaparkan bahwa penyakit peradaban saat ini bukanlah terletak pada kemiskinan materi, melainkan pada kedewasaan emosional publik yang sedang sakit, bahkan sekarat.

“Sejatinya peradaban itu terkait kedewasaan emosional publik, pembentukan karakter, moral dan nilai-nilai kemanusiaan. Peradaban kita sedang sakit bahkan sekarat,” ujar Kiai Sahli, menyentakkan kesadaran para hadirin.

 

Dimensi Spiritual di Balik Hal yang Terlihat Sepele

 

Kiai Sahli mencontohkan fenomena umum yang terjadi di lingkungan terdekat, yaitu grup komunikasi di WhatsApp, baik keluarga, kolega, maupun lembaga. Sikap ‘fakir respon’—mengabaikan pesan penting seperti undangan, permintaan izin, atau bahkan sekadar kabar sakit—menjadi cerminan hilangnya empati sosial.

Menurut beliau, kepedulian sekecil apa pun memiliki nilai spiritual yang tak ternilai. Membiarkan pesan dibaca tanpa balasan, seolah-olah acuh tak acuh, adalah pengikisan karakter yang berbahaya.

Menggunakan bahasa Madura yang lugas, Kiai Sahli merincikan praktik kebaikan yang sering disepelekan namun mengandung pahala agung:

  • “Lakar malarat, senyum tipis ka anak, memeluk dan menepuk pundaknya, manjheng ngantar anak ketika mau berangkat. Sepele tapi bernilai.”
  • (Sungguh mahal, senyum tipis pada anak, memeluk dan menepuk pundaknya, berdiri mengantar anak saat berangkat.)

Kiai Sahli menegaskan, dimensi sosial selalu beriringan dengan konteks spiritual. “Ladang spiritual bukan hanya di tempat ibadah, tetapi juga dalam etika berinteraksi,” tandasnya penuh wibawa.

 

Warisan Ayahanda: Syarat Pesan Kemanusiaan Tertinggi

 

Untuk memperkuat pesan kemanusiaan dan empati, Kiai Sahli Hamid menceritakan kisah mendalam dari ayahandanya, Almarhum KH. Abdul Hamid, Pendiri Ponpes Raudlatul Iman.

Kiai Hamid semasa hidupnya pernah berpesan, sebuah etika agung ketika bertamu:

“Sengkok dapat pesan dari Kiai Hamid, ‘Mun eangka’en oreng, kibeh essa’ mun tak ekakanah’ (Jika dihidangkan makanan, bawalah pulang di sakumu jika tidak ingin memakannya).”

Pesan ini bukan sekadar soal makanan, melainkan syarat kemanusiaan, apresiasi, dan empati sosial yang tinggi terhadap pemberian tuan rumah. Kiai Sahli menyebutnya sebagai “magnet detektif spiritual yang dahsyat.”

Beliau lantas menutup pesan spiritualnya dengan penekanan yang mencengangkan:

“Pahala maperak oreng (membahagiakan orang), jauh lebih berharga dari bangun malam, khatam Qur’an berkali-kali, puasa Senin Kamis dll.”

Pesan Kiai Sahli Hamid menjadi tamparan keras bagi umat di era digital, mengingatkan bahwa hakikat ibadah tertinggi seringkali tersembunyi dalam akhlak dan respon tulus kita terhadap sesama.

MADURA EXPOSE

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *