Turmidzi (memakai syal) menemani Jokowi saat meilhat karyanya ketika pembukaan Tugu Kunstkring Galeri Seni di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat (Foto:Rahmatullah/Licom)

Turmidzi (memakai syal) menemani Jokowi saat meilhat karyanya ketika pembukaan Tugu Kunstkring Galeri Seni di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat (Foto:Rahmatullah/Licom) Turmidzi Jaka (memakai syal) menemani Jokowi saat meilhat karyanya ketika pembukaan Tugu Kunstkring Galeri Seni di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat (Foto:Rahmatullah/Licom)

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

MaduraExpose.com- Seniman sekaligus pembina Dzikir Prenduan, Sumenep, Turmudzi Jaka menyoroti minimnya ‘campur tangan’ pemerintah dalam upaya memberdayakan potensi kesenian yang tumbuh subur di pedalaman dan pesantren.

Bahkan di hari jadi Sumenep yang ke 745 ini, para komunitas itu tidak pernah diberi peran utama sesuai kapasitas telenta yang mereka miliki.

“Pemerintah cenderung lebih fokus pada kegiatan seni yang sifatnya ‘ formalitas dan instan. Coba kesenian yang bertebaran di pelosok dan pesantren di kabupaten Sumenep ini di support dengan layak, pasti hasilnya hebat”, ujarnya.

Vocalis yang sempat tenar dengan musikalisasi puisinya yang bertajuk Kain Putih ini juga menyoroti lemahnya informasi yang diberikan kepada kantong-kantong kesenian yang ada di pedalaman.

“Pemkab harus lebih memperhatikan kelestarian kebuyaan hingga ke pelosok terpencil di tiap desa yang selama ini mereka biaya sendiri dengan kemampuan yang sangat terbatas”, imbuhnya.

Putra penyair terkenal KH.Jamaludin Kafie ini menekankan perhatian pemerintah daerah terhadap masyarakat pelaku seni pesantren.

“Selama ini kekayaan seni di pesantren juga masih kalah dengan ludruk. Dan kalau bicara talenta, para pelaku seni di pesantren jauh memiliki kemampuan SDM yang bisa disuguhkan untuk masyarakat luas”, paparnya panjang lebar.

(add/fer)