Sumenep, MaduraExpose.com- Ketegangan antara kuli tinta dengan pihak dalam DPRD Sumenep sejak beberapa bulan terakhir makin memanas. Hal itu dipicu dengan kebijakan yang diambil oleh pihak Sekwan yang mengambil langkah memasukkan petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) yang berjumlah 14 orang.

Ketegangan berawal dari salah satu anggota Komisi B DPRD Sumenep yang melakukan pengusiran terhadap awak media, saat hendak melakukan konfirmasi terkait fluktuasi harga rumput laut Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Jawa Timur. Ketegangan ini memuncak, setelah petugas Pamdal melarang para Jurnalist meliput rapat terbuka paripurna LKPJ Bupati Sumenep,Kamsi (16/4/2015) kemarin.

Pengusiran ini membuat gerah awak media hingga memutuskan untuk ngelurug ke kantor Sekwan dan Ketua DPRD Sumenep menjelang shalat Jum’at (17/4/2015).

Gerakan bersama wartawan harian Sumenep ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan awak media terhadap Mulki, Sekwan DPRD Sumenep.

“Sejak Sekwan dibawah kendali Pak Mulki, kekacauan seringkali terjadi, banyak gesekan  antara wartawan dengan kalangan ‘penghuni’ parlemen. Lebih-lebih setelah adanya Pamdal ini”, ujar Dayat, wartawan dari MaduraExpose.com, Jum’at.

Sementar wartawan lainnya meminta supaya Sekwan Mulki segera angkat kaki dari jabatannya karena dinilai gagal  menciptakan situasi kerja yang kondusif antara pihak wartawan dengan sejumlah anggota dewan.

“Harusnya Sekwan itu paham, bahwa para wartawan ini bekerja untuk rakyat dengan mewawancarai wakil rakyat. Kantor dewan ini adal rumah rakyat. Kenapa harus di batasi oleh kehadiran Pamdal . Sebaiknya Pak Mulki mundur saja demi kebaikan rakyat Sumenep”, teriak wartawan lainnya.

Sementara Mulki, Sekwan DPRD Sumenep, saat dilurug puluhan wartawan di ruang kerjanya sedang kosong, sementara pintu ruangannya terbuka tanpa satupun petugas berjaga.

Para wartawan juga gagal menemui Ketua DPRD Sumenep karena sedang mengikuti rapat terbuka LKPJ di ruang Graha Paripurna DPRD Sumenep, Jawa Timur.

Puluhan wartawan yang melurug kantor DPRD Sumenep ini sempat ditemui Achmad Subaidi, Ketua Komisi D yang sengaja keluar dari ruang kerjanya untuk menemui para wartawan.

“Kami mendukung keinginan rekan-rekan wartawan. Biar selesai hari ini, tunggu saja Sekwannya kemana. Atau bisa Kawim mewakili untuk menampung aspirasi teman-teman Pers”, ujarnya didepan puluhan wartawan.

Merasa kecewa tidak bisa berbicara langsung dengan Sekwan dan Ketua DPRD Sumenep, kalangan wartawan meninggalkan gedung dewan untuk shalat jum’at sambil mengancam akan kembali awal pekan dengan jumlah massa yang jauh lebih banyak.

“Tolong dengarkan para Pamdal dan semua yang hadir disini, ini belum selesai, kami akan datang lagi ke kantor ini untuk meminta pertanggung jawaban atas pelarangan teman-teman kami yang meliput”, teriak Edo, salah satu wartawan media cetak.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

(Skw/Day/Fer)